Farid menyebut korban mengalami sekitar 4 luka tusuk dan harus menjalani penanganan medis intensif dengan lebih dari belasan jahitan.
“Korban sudah mendapatkan perawatan di rumah sakit. Yang menjadi perhatian kami sekarang adalah dampak psikologis terhadap anak-anak dan guru yang menyaksikan kejadian tersebut,” katanya.
Menurut Farid, salah satu hal yang paling memprihatinkan adalah anak korban juga berada di lokasi dan diduga menyaksikan langsung aksi kekerasan tersebut.
Selain itu, sejumlah siswa dan guru yang tengah mengikuti kegiatan pembagian rapor juga melihat peristiwa berdarah itu dari jarak dekat.
“Guru-guru banyak yang menangis setelah kejadian. Anak-anak juga terlihat syok. Ini yang sangat kami sesalkan karena peristiwa terjadi di lingkungan sekolah yang seharusnya menjadi tempat aman bagi anak-anak,” ungkapnya.
Pasca kejadian, pihak kepolisian bersama sekolah langsung menggelar rapat darurat untuk membahas langkah penanganan psikologis terhadap para saksi.
Polsek Ngaliyan berencana berkoordinasi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang untuk memberikan layanan konseling dan pendampingan trauma.
“Kami akan berkoordinasi dengan DP3A agar pendampingan bisa segera dilakukan. Tidak hanya untuk korban dan keluarganya, tetapi juga guru, siswa, serta orang tua yang menyaksikan kejadian tersebut,” jelas Farid. (*)
Editor: Elly Amaliyah





