Ia menyebut, untuk kegiatan berbagi takjil secara mandiri sebenarnya sudah pernah dilakukan sebelumnya. Namun, untuk kolaborasi dengan brand kuliner baru pertama kali.
“Tahun-tahun sebelumnya sudah pernah untuk kita mandiri. Untuk yang digandeng Pak Wito untuk bidang kulinernya, ini baru kali ini,” jelasnya.
Semarangker sendiri dikenal sebagai komunitas penjelajah tempat-tempat angker dan pengkaji urban legend. Namun, Marcellino menegaskan bahwa kegiatan mereka tidak hanya soal eksplorasi.
Selain bagi takjil, selama Ramadan mereka juga berencana menggelar santunan anak yatim dan pembagian zakat yang pengelolaannya secara mandiri melalui iuran anggota.
“Harapannya dengan kegiatan sosial ini bisa mengenalkan Semarang dan melebarkan komunitas, supaya masyarakat yang belum tahu jadi tahu tentang Semarangker,” ujarnya.
Sementara itu, Perwakilan Manajemen Soto Ayam Dargo Pak Wito, Ivana Pandelaki, menyebut kegiatan berbagi takjil ini sudah berlangsung sejak tahun 2025 sebagai bentuk kepedulian sosial.
“Jadi ini memang dari tahun kemarin 2025 kami juga melakukan kegiatan yang sama. Ini bentuk kepedulian kami. Jadi bukan hanya sekadar kami menjual sesuatu, tapi bagaimana kami juga bisa berdampak dan berbagi dengan masyarakat,” kata Ivana.
BACA JUGA: Daftar Jajanan Kaki Lima yang Bisa Jadi Menu Takjil Buka Puasa, Mana Faforitmu?
Selain sebagai aksi sosial, kegiatan ini juga menjadi bagian dari promosi dengan konsep berbeda setiap tahunnya.
“Tahun lalu 2025 kita menggandeng antar umat beragama. Tahun ini kita menampilkan sesuatu yang berbeda. Kita menggandeng komunitas Semarangker karena unik, biar ada perbedaan saja,” pungkasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





