Dengan sistem tersebut, kata dia, para pedagang tidak harus membangun fasilitas pengolahan limbah secara mandiri. Pemerintah dapat menyediakan satu instalasi yang menampung limbah dari sejumlah usaha di kawasan tersebut.
“Mungkin itu penerapannya di semacam sentra kuliner. Buat semacam IPAL komunal khusus untuk usaha yang ada di situ. Jadi, limbahnya bisa tertampung langsung ke IPAL untuk pengolahan sebelum mengalir ke lingkungan,” katanya.
Meski demikian, Edy mengakui pembangunan IPAL komunal membutuhkan sumber daya yang tidak sedikit. Pemerintah perlu menyiapkan lahan, pembiayaan, hingga biaya operasional agar fasilitas tersebut dapat berfungsi secara berkelanjutan.
Menurutnya, pembangunan instalasi pengolahan limbah tidak bisa berjalan secara instan. Perlu perencanaan dan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari tahap persiapan hingga pelaksanaan.
Perlu Keterliban Berbagai Pemangku Kepentingan
Edy mengatakan, persoalan limbah tidak bisa hanya jadi beban pelaku usaha. Pemerintah dan masyarakat juga perlu mengambil peran dalam memastikan limbah tidak mencemari lingkungan.
“Karena memang saya bilang limbah ini adalah tanggung jawab kita bersama,” ucapnya.
BACA JUGA: Garap Limbah Pertanian dan Peternakan jadi Biogas, Karang Taruna Desa Manggihan Kabupaten Semarang Melaju Tingkat Nasional
Dia mencontohkan, pemerintah dapat menyediakan satu fasilitas IPAL di tingkat kecamatan atau kawasan tertentu. Fasilitas tersebut nantinya dapat pedagang kaki lima (PKL) maupun pelaku usaha kecil di sekitarnya manfaatkan.
“Misalkan di daerah Banyumanik, atau mungkin di daerah kecamatan itu ada satu IPAL. Itu khusus untuk teman-teman PKL di sana, sehingga tidak langsung membuang ke lingkungan,” katanya.
Limbah Kuliner Bisa Turunkan Kualitas Air
Lebih lanjut, Edy mengatakan, pembuangan limbah makanan dan aktivitas mencuci peralatan usaha secara sembarangan dapat berdampak pada kualitas air di lingkungan sekitar.
Kandungan minyak, lemak, dan deterjen dalam limbah dapat menyebabkan air tercemar. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu kehidupan organisme yang bergantung pada kualitas air, termasuk ikan dan mikroorganisme.
“Kalau terkait limbah yang pasti ada terkait dengan penurunan kualitas air,” katanya.





