Peristiwa

Warga yang Viral di Video Limbah Bakso Banyumanik Buka Suara soal Kronologi Adu Mulut

×

Warga yang Viral di Video Limbah Bakso Banyumanik Buka Suara soal Kronologi Adu Mulut

Sebarkan artikel ini
Lokasi selokan warga yang menjadi tempat pembuangan limbah bakso di kawasan Srondol Wetan, Banyumanik, Sabtu, 7 November 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)
Lokasi selokan warga yang menjadi tempat pembuangan limbah bakso di kawasan Srondol Wetan, Banyumanik, Sabtu, 7 November 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Video perselisihan antara warga dan pemilik ruko warung bakso terkait pembuangan limbah ke selokan di kawasan Srondol Wetan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, pada Selasa, 3 November 2026 malam, sempat menjadi perbincangan di media sosial.

Pria yang terlihat dalam video tersebut, Eka Kurniawan, akhirnya memberikan penjelasan mengenai kronologi kejadian dari sudut pandangnya.

Eka yang merupakan pengurus RT sekaligus warga setempat mengatakan, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 22.00 WIB hingga 22.30 WIB. Saat mendengar keributan di depan rumah, dia keluar untuk mengetahui persoalan yang terjadi sekaligus mencoba menengahi kedua pihak.

Dia mengatakan, meminta warga dan pemilik warung agar tidak melanjutkan perdebatan pada malam hari. Eka juga menyarankan agar persoalan mereka sampaikan kepada pengurus RT untuk jadi pembahasan melalui forum warga.

“Saya mencoba memediasi, menengahi permasalahannya apa? Saya bilang, malam-malam tidak usah ribut-ribut. Monggo lapor ke RT supaya bisa ada tindak lanjut pada forum warga,” kata Eka, Sabtu, 7 November 2026.

Eka bilang, situasi kemudian memanas setelah dia menyampaikan saran tersebut. Dia mengaku terpancing emosi ketika mendapat respons yang dia anggap tidak pantas.

“Saya terpancing emosi karena ketika saya ngomong seperti itu, dia ngomong, ‘saya harus ngomong bahasa apa? bahasa hewan atau bahasa binatang’,” tutur Eka menirukan tetangganya yang memprotes pembuangan kuah limbah bakso tersebut.

BACA JUGA:  Kasus Pembakaran 3 Santri di Ponpes Lombok, Pesantren Disebut Beri Uang Hanya Rp1 Jutaan

“Otomatis saya terpancing emosi, saya orang tua kok. Apalagi, mereka secara sosial bermasalah, mohon maaf,” katanya.

Eka juga membantah anggapan bahwa dia bersikap arogan sebagaimana kesan yang muncul dalam potongan video viral.

Menurutnya, rekaman yang beredar di media sosial tidak memperlihatkan keseluruhan kejadian. Di mana proses komunikasi yang berlangsung malam itu.

“Duduk permasalahannya tidak sebagaimana yang kemudian viral di media sosial. Videonya kepotong-potong, tidak seperti itu. Saya juga kaget tiba-tiba seolah-olah saya yang arogan,” katanya.

Selain persoalan limbah, Eka bilang, terdapat sejumlah masalah lain antara warga tersebut dengan masyarakat lingkungan sekitar.

Pedagang Beri Mikroba untuk Kurangi Bau Limbah

Terkait pembuangan limbah warung bakso, Eka mengatakan, pihak warung sebelumnya mengaku telah melakukan penanganan terhadap air sisa pencucian sebelum dialirkan ke saluran.

Pemilik warung menyebut limbah tersebut telah dia beri mikroba untuk mengurangi bau. Kemudian setelah buang ke selokan, ada bilas menggunakan sekitar lima galon air bersih.

Eka berkata, saat kejadian dia sebenarnya ingin menjelaskan keterangan tersebut agar persoalan bisa mendapat pemahaman secara utuh. Akan tetapi, perdebatan yang terjadi membuat penjelasan itu tidak tersampaikan dengan baik.

BACA JUGA:  Usai Viral Buang Limbah ke Selokan, Warung Bakso di Semarang Diminta Buat IPAL Portabel

Sementara itu pemilik rumah, Rina, mengatakan persoalan tersebut sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Dia mengatakan, telah beberapa kali menyampaikan keberatan. Akan tetapi aktivitas pembuangan limbah masih terus terjadi.

“Awalnya saya tidak masalah dengan adanya usaha di dekat rumah. Cuma yang bikin resah adalah setiap malam harus mencium aroma yang tidak sehat dan tidak sedap dari got di depan rumah,” kata Rina, Rabu, 4 November 2026.

Dia mengatakan, t kondisi tersebut sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Bau yang timbul bahkan dia gambarkan seperti aroma bangkai atau cairan lemak yang menyengat.

“Intinya saya hanya meminta bagaimana caranya agar mereka membuang limbah tidak meresahkan dan merugikan orang lain,” katanya.

DLH Kota Semarang Sarankan Pembuatan Sumur Resapan

Kepala Bidang Pengawasan dan Pemberdayaan Lingkungan DLH Kota Semarang, Wahyu Heryawan, mengatakan, warung bakso tersebut sebenarnya telah melakukan pemilahan limbah.

“Sebetulnya sudah ada pemilahan, tetapi pada akhirnya dia buang kembali ke saluran milik warga. Itu yang kemudian menimbulkan masalah dan menjadi persoalan di lingkungan,” katanya usai mediasi sebelumnya.

DLH kemudian memberikan sejumlah rekomendasi teknis untuk memperbaiki sistem pengolahan limbah warung tersebut.

BACA JUGA:  Usai Viral Buang Limbah ke Selokan, Warung Bakso di Semarang Diminta Buat IPAL Portabel

Untuk penanganan jangka pendek, pemilik usaha bisa membuat grease trap atau perangkap lemak. Fasilitas ini berfungsi menyaring kandungan minyak dan lemak dari sisa pencucian peralatan maupun aktivitas memasak sebelum air limbah mengalir ke lingkungan.

Selain itu, DLH menyarankan pembuatan sumur resapan sebagai bagian dari penanganan sementara. Adapun untuk jangka menengah, pemilik warung diarahkan mempertimbangkan penggunaan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) portabel. (*)

Editor: Diaz A Abidin

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp