1.583 Buruh Pabrik Rokok di Semarang Terima Bantuan Langsung Tunai

Plt Walikota Semarang Hevearita G. Rahayu menyerahkan BLT BPHCHT. /Foto: Ellya.

Semarang, 18/11 (BeritaJateng.tv) – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang kembali menyalurkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) tahap kedua kepada total 1.583 buruh pabrik rokok yang ada di Kota Semarang.

Kepala Dinas Sosial Kota Semarang. Heroe Sukendar mengatakan BLT tahap kedua ini dibagikan kepada sembilan pabrik rokok yang ada di Kota Semarang. Ia menjelaskan jumlah bantuan seharusnya diberikan kepada 1.270 buruh seperti data pada tahap pertama, namun pada tahap kedua ini ada penambahan 313 buruh karena ada perubahan anggaran.

“Jadi totalnya 1.583 untuk tahap kedua ini. Kita berikan langsung untuk tiga bulan yakni bulan September, Oktober dan November secara langsung. Setiap bulannya Rp 300 ribu jadi mereka menerima Rp 900 ribu,” jelas Heroe usai pembagian BLT secara simbolis di Ruang Lokakrida Gedung Moch. Ichsan lantai 8, Balaikota Semarang, Kamis (17/11).

Heroe mengatakan untuk buruh lainnya, Pemkot Semarang bersama Bank Jateng nantinya akan menyambangi masing-masing pabrik rokok untuk menyerahkan langsung BLT di tiap-tiap pabrik.

Pasalnya, jika buruh harus datang semua ke Balaikota maka akan berisiko mengganggu jam kerja para buruh. Rencananya mulai minggu depan pihaknya akan berkeliling untuk membagikan BLT tersebut.

“Mengurangi resiko jika dikumpulkan di balaikota maka kita akan serahkan langsung didatangi ke masing-maisng pabrik karena mereka kan kerja di target jadi agar tidak merugikan mereka juga,” ungkapnya.

Sementara untuk BLT tahun 2023, Heroe mengaku masih menunggu petunjuk dari Kementerian Keuangan. Pasalnya pemerintah daerah hanya melaksanakan apa yang sudh diputuskan okeh pemerintah pusat.

“Rencana tahun 2023 kita masih menunggu petunjuk dari pusat dari Menteri Keuangan lalu kami laksanakan di daerah,” bebernya.

Plt Walikota Semarang, Hevearita G. Rahayu berpesan kepada para buruh yang menerima BLT agar bisa bijak dalam menggunakan uang tersebut. Ia meminta agar para buruh tidak terlalu konsumtif, pasalnya tahun 2023, menurut prediksi akan ada resesi global dan diharapkan seluruh lapisan masyarakat termasuk buruh bisa bertahan.

“Ini untuk tambahan buruh rokok karena pabrik rokok disini kan lintingan atau Handmade dan tidak bisa produksi seperti pabrik besar yang bisa suistanable. Pesan saya jangan dipakai untuk konsumtif sehingga bisa di belanjakan sesuai kebutuhan dan kalau bisa juga di tabung,” ucap Ita, sapaan akrabnya.

Ita juga berharap di Tahun 2023, BLT yang diberikan dari pemerintah pusat melalui pemerintah daerah bisa lebih besar lagi.

“Harapannya tahun 2023 bisa diberikan dengan jumlah yang lebih banyak karena sepertinya anggaran lebih besar dari pemerintah Provinsi tapi nanti kota akan hitung lagi,” pungkasnya. (Ak/El)

Leave a Reply