SEMARANG, beritajateng.tv – Kasus perundungan dalam pendidikan dokter spesialis menjadi perhatian utama Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip), Prof. Dr. dr. Zainal Muttaqin, SpBS(K).
Melalui cuitannya di X (Twitter), ia menyampaikan pandangannya bahwa isu perundungan ini merupakan hal kecil yang publik besar-besarkan.
“Bullying di Pendidikan Spesialis, hal kecil yang dibesar-besarkan, untuk apa?” tulis @zainalM_Prof, beberapa waktu yang lalu.
Zainal menekankan bahwa sistem pendidikan dokter spesialis bertujuan untuk membentuk karakter kuat calon dokter spesialis melalui proses yang penuh tantangan.
Menurut Zainal, proses pendidikan dengan segala kesulitan dan pengorbanan, termasuk disiplin ketat, bukanlah bentuk perundungan.
BACA JUGA: Video Kasus Meninggalnya Dokter PPDS Undip, Polisi Belum Temukan Bukti Perundungan
“Tempaan proses pendidikan dengan segala suka dan duka bahkan tetesan air mata itulah yang akhirnya membentuk pribadi tangguh dengan moral yang luhur para pejuang kemanusiaan tersebut,” imbuhnya.
Sebaliknya, hal tersebut perlu untuk membangun moral yang luhur dan kemampuan terbaik para dokter spesialis dalam menyelamatkan nyawa pasien.
Ia juga menambahkan bahwa aturan-aturan keras dalam pendidikan dokter spesialis memang bisa terlihat sebagai bentuk perundungan bagi sebagian orang.
“Bisa jadi upaya membentuk sikap disiplin dan tanggung jawab yang bersifat zero tolerance ini bisa orang persepsikan sebagai bentuk bullying,” sambungnya.
Profil dr. Zainal Muttaqin
Prof. Dr. dr. Zainal Muttaqin, SpBS(K), merupakan seorang ahli bedah saraf yang telah mengabdikan diri dalam dunia kedokteran selama lebih dari 29 tahun.
Ia menyelesaikan pendidikan Spesialis Bedah Saraf di Universitas Hiroshima, Jepang, dan saat ini menjadi salah satu dari lima pakar bedah epilepsi di Indonesia.
Berkat keahliannya, banyak pasien epilepsi di Indonesia yang berhasil mendapatkan penanganan yang lebih baik.
Selain sebagai praktisi, dr. Zainal juga aktif sebagai pendidik di Fakultas Kedokteran Undip, di mana ia menjabat sebagai guru besar.
BACA JUGA: Video Mahasiswi Kedokteran Undip Meninggal di Kos, Polisi Temukan Catatan Dugaan Bullying
Dalam perannya sebagai tenaga pendidik, dr. Zainal turut andil dalam mencetak dokter-dokter spesialis berkualitas. Sebab, ia turut mengajar dalam program studi bedah saraf di Undip.
dr. Zainal juga tercatat sebagai anggota aktif di Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf Indonesia (PERSPEBSI) dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI).
Kini, Prof. Zainal bertugas di beberapa rumah sakit ternama di Semarang, antara lain RSUP Dr. Kariadi dan RS Tegalrejo.
Di samping itu, ia juga berpraktik di Semarang Medical Center Telogorejo. Di sana, ia menawarkan layanan konsultasi bedah saraf sebelum tindakan operasi. (*)





