SEMARANG, beritajateng.tv – Tahun 2024 baru saja mulai. Momentum tahun baru merupakan waktu yang pas untuk introspeksi diri tentang resolusi atau program-program yang telah direncanakan sepanjang 2023.
Setelah itu, tak ada salahnya menyusun kembali resolusi untuk satu tahun ke depan. Terlepas dari resolusi apa yang kita ingkan, membuat resolusi tahun baru cukup penting kerena bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup di tahun 2024.
Hal itu sebagaimana yang Fadila Intan lakukan. Salah satu anak muda Semarang itu tak ketinggalan untuk menetapkan harapan di masa depan. Ia mengatakan, di tahun 2024 ini ia ingin lebih mencintai dirinya sendiri.
Perempuan asal Banyumanik tersebut mengaku ingin mencoba sesuatu yang baru. Misalnya seperti solo traveling ke berbagai kota di Indonesia.
BACA JUGA: Hari Pertama Tahun Baru, Sinyal Indosat Hilang di Jateng dan Jogja, Ternyata Ini Penyebabnya
”2023 aku masih kurang untuk fokus ke diri sendiri, mau itu self love atau self reward itu masih kurang, aku belum menerima diriku sepenuhnya. Di 2024 harapannya aku bisa lebih banyak ke diri sendiri, pengen bahagiain diri sendiri,” ungkapnya kepada beritajateng.tv, Senin, 1 Januari 2024.
Senada, Sabrina Fitri juga telah menetapkan resolusinya untuk tahun 2024. Selain ingin traveling ke luar Pulau Jawa dan membeli gadget impiannya, Sabrina berambisi untuk menonton konser tunggal idolanya.
“Aku pengen banget dateng ke konser tunggal Nadin Amizah. Karena biasanya konser tunggal dia cuma di Jakarta atau Jawa Barat, jadi di 2024 aku pengen seenggaknya pernah sekali datengin konser tunggalnya,” akunya.
Psikolog sebut resolusi tahun baru harus realistis
Sementara itu, Psikolog Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), Damar Anggiafitri Yulissusanti, memberikan tips dalam menyusun resolusi tahun baru.
Anggi, sapaan akrabnya, mengatakan dalam menyusun resolusi tahunan penting untuk menetapkan target yang realistis. Mengenali batasan, kapasitas dan kemampuan diri sendiri sangat penting sebelum menentukan target-target tertentu.
“Misalnya mahasiswi akhir ingin lulus 3,5 tahun tapi dengan kondisi ekonomi tidak stabil sehingga dia harus bekerja. Kan rasanya sedikit susah untuk lulus 3,5 tahun,” jelasnya.
Menurutnya, menetapkan target yang realistis dapat menghindari memaksakan diri di luar kemampuan. Sebab, apabila gagal, biasanya seseorang akan menyalahkan diri sendiri atas kegagalan tersebut.
BACA JUGA: Cek 4 Tempat Camping Seru dengan View Alam yang Indah, Cocok untuk Rayakan Momen Awal Tahun
Anggi menambahkan, perencanaan resolusi juga dapat kita lakukan dengan mevisualisasikan atau menggambar seperti apa target-target yang ingin dicapai. Sebab, pemvisualan akan menciptakan semangat serta menjaga hawa positif untuk diri sendiri.
“Visualisasikanlah, usahakan kondisi itu benar-benar kita rasakan, ketika cita-cita tercapai rasanya pasti seneng banget,” sarannya.
Lebih lanjut, ketika gagal pun, Anggi menyarankan untuk menuliskan atau mencatat kegagalan tersebut sehingga dapat membantu proses penerimaan sekaligus untuk menganalisis kendala-kendala yang menyulitkan.
“Ketika sudah tahu kendalanya, kita bisa lebih menerima dan menyadari kalau kita sebagai manusia mungkin ada kesalahan, atau kekeliruan. Langkah yang kita lakukan menerima dulu, kalau ini kendala-kendala di luar dari kewenangan yang tidak bisa saya kontrol,” sambungnya. (*)
Editor: Mu’ammar Rahma Qadafi





