Para ahli juga menyoroti potensi kontaminasi mikroorganisme. Ratri menemukan banyak ramuan rumahan tidak steril. “Wadah yang tidak steril membawa bakteri. Campuran itu bisa berubah menjadi sarang jamur dalam beberapa hari,” kata Ratri lagi. Ia menegaskan bahwa sistem pengawet pada produk resmi menjadi rusak ketika pengguna mencampurkannya.
Di sisi lain, influencer kecantikan Della Oktaviani mengakui bahwa sebagian besar konten seharusnya memberikan edukasi, bukan sembarang eksperimen. “Saya melihat banyak pengguna menyalin resep tanpa memahami bahan. Konten kreator harus lebih bertanggung jawab,” ungkap Della. Ia setuju bahwa DIY Mixology perlu dikaji ulang agar tidak membahayakan kulit.
BACA JUGA: Viral Cara SD Muhammadiyah Parakan Temanggung Apresiasi Prestasi Siswa, Usung Konsep Foto Unik-Ceria
Sementara itu, Dimas mengajak masyarakat lebih berhati-hati. Ia menegaskan bahwa tren tersebut tidak sebanding dengan risiko yang muncul. “Hasil cepat itu sering hanya ilusi. Kulit justru rusak dalam jangka panjang,” katanya.
Ratri memberi saran agar masyarakat menggunakan produk sesuai petunjuk ahli. Ia menyebut formula profesional telah melalui riset panjang. “Produk resmi sudah stabil dan aman. Pengguna hanya perlu konsisten,” ucapnya.
Praktik DIY Mixology sebaiknya tidak diikuti tanpa pemahaman ilmiah. Para ahli sepakat bahwa keamanan kulit jauh lebih penting daripada tren sesaat. (*)





