“Gas metana sebenarnya sudah banyak ada di hotel dan restoran, tetapi di perumahan masih jarang. Kami ingin menghadirkan energi yang lebih efisien sekaligus mengurangi ketergantungan pada LPG impor,” ujarnya.
Pengembangan gas metana tersebut rencananya melalui kolaborasi dengan Badan Usaha Milik Daerah di sektor energi. Kolaborasi ini harapannya dapat memperkuat peran BUMD dalam mendukung kawasan hunian berbasis energi bersih.
Dari total 44 unit rumah yang ditawarkan, sekitar 40 persen di antaranya telah terjual. Hunian yang dibangun mengusung konsep rumah dua lantai bergaya industrial dengan luas tanah 120 meter persegi dan luas bangunan 58 meter persegi. Harga unit di tawarkan mulai kisaran Rp1 miliar.
Segmen pasar Cluster Sakalint menyasar kalangan menengah ke atas. Meski demikian, pihak pengembang membuka peluang kerja sama dengan Dinas Perumahan dan Permukiman Provinsi Jawa Tengah melalui program Omah Lestari untuk menghadirkan hunian yang lebih terjangkau bagi aparatur sipil negara dan masyarakat.
“Kami terbuka untuk berkolaborasi agar konsep hunian ramah lingkungan juga bisa di akses lebih luas oleh masyarakat,” tambah Aurellia. (*)
Editor: Elly Amaliyah





