Sementara itu, Ashar, Ketua RW, mengatakan bahwa wilayahnya merupakan salah satu kampung kuno yang masih bertahan. Meski begitu, ia tak menampik adanya kekhawatiran di masa depan Kampung Bustaman akan hilang tergusur pembangunan.
“Sekarang mungkin masih bisa bertahan karena ada saya dan Pak Slamet yang menjaga, tapi bagaimana besok kalau kami sudah meninggal?” katanya.
Ia pun mencontohkan ada beberapa kampung tua yang kian tergusur. Salah satunya yakni Kampung Sekayu. Menurutnya, saat ini keberadaan Kampung Sekayu kian terpinggirkan lantaran pembangunan yang masif.
BACA JUGA: Pemkot Semarang Kembangkan Potensi Wisata Kampung Melayu
Ia pun berharap, pemerintah dan juga pihak terkait dapat memberikan perhatian terhadap eksistensi kampung tua yang sarat akan sejarah di Kota Semarang. Baginya, keberlanjutan kampung kuno termasuk Kampung Bustaman perlu untuk terus dilestarikan.
“Kota Semarang identik dengan kampung-kampung kuno, walau mungkin kian sedikit tapi sejarahnya kan masih ada, ini jangan sampai hilang,” tandasnya. (*)
Editor: Mu’ammar Rahma Qadafi





