“Ekstrakurikuler karawitan ini memang sudah menjadi ciri khas. Kami sebagai sekolah Adi Pangastuti menanamkan nilai budaya Jawa, baik dari perilaku, etika, hingga kesenian,” jelasnya.
Ia menambahkan, momentum Hari Kartini dimanfaatkan untuk memberi ruang lebih kepada siswi agar tampil dan berekspresi.
BACA JUGA: Peringatan Hari Kartini 2026, Sumanto dan Rober Christanto Gaungkan Keteladanan Nyai Ageng Karang
“Perayaan kali ini memang kami khususkan banyak diisi oleh siswa putri. Ini sejalan dengan semangat Kartini, sekaligus memberdayakan perempuan melalui budaya tradisional,” ujarnya.
Taufiq berharap, kegiatan ini tak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga membentuk karakter siswa di tengah arus globalisasi.
“Anak-anak harus mengikuti semangat perjuangan Kartini, tapi juga tetap menjaga budaya. Jangan sampai modern tapi kehilangan jati diri,” tegasnya.
Ketua panitia kegiatan, Ni Putu Shinta, mengungkapkan bahwa rancangan konsep acara memang menggabungkan unsur modern dan tradisional. Salah satunya melalui ajang “Kangmas Mbakyu” versi sekolah yang diiringi langsung oleh gamelan.
Selain itu, rangkaian acara juga diisi dengan berbagai lomba seperti menyanyi, cerdas cermat, hingga seni peran, serta bazar dan photobooth yang menambah kemeriahan.
Perpaduan antara gamelan, peran aktif siswi, dan semangat emansipasi menjadi bukti bahwa warisan budaya tak harus usang. Di tangan Kartini muda SMAN 1 Semarang, tradisi justru menemukan bentuk barunya lebih inklusif, relevan, dan penuh makna. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





