“Justru alasan utama mengikuti vasektomi adalah untuk meringankan beban istri. Selama ini istri yang mengandung, melahirkan, dan menyusui. Melalui vasektomi, suami ikut mengambil peran dalam program KB sehingga tanggung jawab keluarga menjadi lebih seimbang,” katanya.
Adapun persyaratan administrasi yang harus terpenuhi antara lain memiliki buku nikah, kartu tanda penduduk (KTP), dan kartu keluarga (KK).
Selain itu, calon peserta wajib menjalani pemeriksaan kesehatan dan skrining di rumah sakit sebelum tindakan vasektomi berjalan.
Untuk mendorong partisipasi masyarakat, peserta vasektomi juga mendapatkan insentif sebesar Rp 1 juta. Hal ini sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka dalam mendukung program kependudukan dan keluarga berencana.
“Rewardnya uang Rp 1.000.000, kemudian pelayanannya di rumah sakit dengan dokter spesialis urologi yang bekerja sama dengan kami,” kata Lilik.
Layanan tindakan, lanjut dia, tentu harus tertangani dokter spesialis urologi di rumah sakit yang bekerja sama dengan Dinas Pengendalian Penduduk dan KB Kota Semarang.
Sebagai perbandingan, sepanjang tahun 2025 lalu jumlah peserta vasektomi di Kota Semarang mencapai 95 orang.
Pemerintah Kota Semarang berharap angka partisipasi pria dalam program KB terus meningkat sehingga tanggung jawab pengendalian kelahiran tidak hanya jadi beban bagi perempuan. (*)
Editor: Elly Amaliyah





