Catatan Editor

Di Mana Ada Pembakaran Buku, Di Sana Akal Sehat Menjadi Abu

×

Di Mana Ada Pembakaran Buku, Di Sana Akal Sehat Menjadi Abu

Sebarkan artikel ini
Di Buku | Gambar AI | Frankenstein | Semarang Tertinggal | Kita Kami | 2024 PPDB | Sato Reang
Mu'ammar Qadafi. (Foto: Dok. Pribadi)

Dan ujaran-api itu akan merembet ke mana-mana, ke banyak orang, apalagi terkena tiupan angin para pendengung (buzzer) yang bersangkutan. Dan orang-orang, dengan sebagian atau seluruh akal sehatnya hangus, pun lantas ikut-ikutan melontarkan makian sengit kepada Najwa Shihab.

Kisah pembakaran buku dalam novel Fahrenheit 451

Sementara itu, bakar-bakaran buku yang belakangan terjadi ini juga mengingatkan pada novel Fahrenheit 451 karya Ray Bradbury, seorang pengarang Amerika Serikat.

Dalam novel itu terkisah ada pemadam kebakaran yang tugasnya justru bertentangan dengan nama pekerjaannya, yakni: membakar buku. Pasalnya, pemerintah dalam dunia Fahrenheit 451 menciptakan propaganda bahwa buku merupakan sumber kebingungan, konflik, serta ketidakbahagiaan.

Pemerintah bahkan menganggap kegiatan membaca bisa membuat warga mempertanyakan tatanan hidup yang telah penguasa atur, lantas orang-orang bakal melawan hingga mengusik stabilitas sosial. Itu sebabnya pemerintah di sana menitahkan agar buku dibakar hingga musnah pada suhu 451 °Fahrenheit.

Tak berhenti di situ, penguasa juga menciptakan konflik horizontal di mana masyarakat menjadi saling melaporkan apabila mengetahui orang lain menyimpan buku. Bahkan, pemerintah memiliki anjing robot canggih yang bakal menindas para pembaca buku dengan kekerasan layaknya polisi.

Tak ingin warganya berpikiran kritis, pemerintah pun terus-terusan menyediakan hiburan rendahan guna mengalihkan perhatian mereka dari buku, termasuk dengan adanya televisi interaktif yang besarnya hampir seruangan penuh.

BACA JUGA: Dari Mary Shelley ke Nabi Daud, Bagaimana Akhir yang Pantas Bagi Kisah Frankenstein Politik Indonesia?

Pelbagai macam cara tersebut membuat pemerintah dapat menyeragamkan apa yang warganya terima serta konsumsi. Sehingga, tak terjadilah perbedaan pandangan, dan orang-orang bisa dengan mudah mereka arahkan.

Melihat beberapa hal dalam Fahrenheit 451 dengan satu dan lain cara bermunculan di Indonesia—dari pembakaran buku, anjing canggih (bot buzzer) hingga hibur-hiburan dangkal (konten murahan TikTok, dlsb), rasa-rasanya itu semua sebaiknya berakhir sebatas fiksi belaka. Alias: Make Fahrenheit 451 fiction again!