SEMARANG, beritajateng.tv – Talud yang ambrol di sepanjang aliran sungai Jalan Tlogosari Raya kembali menarik perhatian warga dan pemerintah.
Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang memastikan penyebab utama kerusakan tersebut berasal dari karakter struktur tanah di kawasan setempat yang berbeda dengan wilayah lain.
Kepala DPU Kota Semarang, Suwarto, menjelaskan bahwa lapisan tanah di bawah talud Tlogosari Raya dominan terdiri dari tanah lempung yang sangat rentan terhadap air. Saat curah hujan tinggi, tanah jenis ini mudah melembek dan kehilangan daya dukung.
“Struktur tanah di Tlogosari itu memang berbeda. Di bawahnya ada lapisan tanah lempung, kalau kena air akan lembek. Kemarin hujan deras dua hari, air sungai penuh, kemungkinan di bawahnya terjadi longsoran,” ujar Suwarto, Senin, 12 Januari 2026.
BACA JUGA: Talud di Sungai Tlogosari Raya Ambrol, DPRD Desak Pemkot Semarang Lakukan Perbaikan
Ia menyebut kondisi tersebut membuat konstruksi talud lama tidak lagi memadai. Menurutnya, penguatan struktur menjadi kebutuhan mutlak agar kerusakan tidak meluas dan membahayakan lingkungan sekitar.
“Secara teknis, konstruksinya memang harus kita perkuat lagi karena karakter tanahnya seperti itu. Kalau tidak, potensi ambrol bisa terjadi lagi,” jelasnya.
Meski demikian, Suwarto menegaskan bahwa perbaikan talud tidak bisa berjalan secara instan. Saat ini, DPU masih menunggu kondisi air sungai benar-benar surut agar proses penanganan dapat dilakukan dengan aman.
“Sekarang air sungai masih tinggi. Kalau kondisinya seperti ini, otomatis kami belum bisa melakukan kegiatan apa pun. Begitu air surut, penanganan sementara akan segera kami lakukan,” katanya.
Untuk perbaikan permanen, DPU akan melaksanakannya secara bertahap dengan menyesuaikan kemampuan fiskal Pemerintah Kota Semarang.
Suwarto menyebut, rencana penguatan struktur talud secara menyeluruh akan ia upayakan masuk dalam program tahun anggaran 2026.
“Dengan kondisi fiskal kota saat ini, tentu harus kami sesuaikan. Perbaikan akan dilakukan bertahap dan rencananya akan lebih optimal di 2026,” tambahnya.





