“Yang paling mendasar adalah bagaimana wasit ke depan dibekali sensitivitas atau kepekaan untuk mengambil tindakan. Kapan pertandingan harus berhenti, kapan atlet harus mendapatkan penanganan, dan bagaimana mencegah cedera yang lebih berat,” jelasnya.
Kedua, ofisial pertandingan.
Arnaz menilai ofisial harus mampu membaca kondisi atlet yang berada dalam tekanan pertandingan.
Mereka tidak boleh hanya berorientasi pada kemenangan, tetapi juga harus berani memberikan perlindungan ketika atlet sudah tidak layak melanjutkan pertandingan.
Dalam sejumlah cabang olahraga, keputusan menghentikan pertandingan meskipun atlet masih ingin bertanding menjadi bagian penting dari upaya melindungi keselamatan.
Ketiga, kesiapan tim medis. Kehadiran tenaga medis, peralatan pertolongan pertama, serta akses cepat menuju rumah sakit rujukan harus menjadi standar yang tidak bisa di tawar dalam setiap kompetisi.
Arnaz juga menyoroti pentingnya kepekaan seluruh perangkat pertandingan ketika menghadapi kondisi atlet yang menunjukkan tanda-tanda cedera berat.
Ia mencontohkan insiden dalam pertandingan pencak silat, ketika seorang atlet dilaporkan mengalami kondisi kejang, tetapi pertandingan masih berjalan.
Menurutnya, situasi semacam itu harus menjadi perhatian serius. Kondisi atlet yang menunjukkan gejala darurat semestinya segera mendapatkan respons dan pemeriksaan medis, bukan dibiarkan menghadapi risiko yang lebih besar.
“Kalau sudah ada kondisi seperti kejang-kejang, seharusnya tidak boleh dianggap sebagai bagian biasa dari pertandingan. Keselamatan atlet harus menjadi pertimbangan paling utama,” ungkapnya.
Arnaz memahami bahwa keputusan menghentikan pertandingan terkadang dapat memunculkan protes dari atlet maupun ofisial. Namun, perlindungan terhadap nyawa dan keselamatan atlet harus ditempatkan di atas kepentingan hasil pertandingan.
Baginya, kemenangan dan medali memang penting, tetapi tidak sebanding dengan risiko kehilangan nyawa seorang atlet.
Terkait kesiapan penanganan medis, Arnaz menjelaskan bahwa KONI Kota Semarang telah memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan Porprov melalui koordinasi dengan sejumlah rumah sakit rujukan.
Langkah tersebut untuk memastikan atlet yang mengalami cedera dapat memperoleh penanganan medis sesuai kebutuhan.





