SEMARANG, beritajateng.tv – Di balik persaingan medali dan ambisi atlet meraih prestasi tertinggi dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVII Jateng 2026, tersimpan duka mendalam.
Dua atlet Porprov meninggal dunia setelah mengalami insiden dalam rangkaian pertandingan, yakni atlet selam asal Kabupaten Jepara dan atlet pencak silat dari Kota Semarang.
Peristiwa tragis tersebut menjadi catatan serius bagi dunia olahraga Jawa Tengah. Evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan Porprov pun perlu terlaksana. Terutama menyangkut sistem pengawasan pertandingan, kesiapan ofisial, serta kecepatan penanganan medis ketika atlet mengalami kondisi darurat.
Ketua Umum KONI Kota Semarang, Arnaz Agung Andrarasmara, menegaskan bahwa keselamatan atlet harus menjadi prioritas utama dalam setiap penyelenggaraan kompetisi olahraga.
Menurutnya, atlet memang dituntut untuk berprestasi, tetapi mereka bukan sekadar aset untuk mengejar medali.
Di balik setiap atlet terdapat keluarga, masa depan, dan kehidupan yang harus di lindungi.
“Atlet memang di tuntut untuk berprestasi. Namun, di luar itu mereka juga memiliki keluarga dan masa depan. Karena itu, keselamatan mereka wajib kita jaga,” tegas Arnaz saat memberikan pandangannya terkait evaluasi pelaksanaan Porprov XVII Jawa Tengah 2026.
BACA JUGA: Agustina Tambah Penerima Bisyaroh Jadi 9.992 Orang, Naik 52 Persen Jangkau Guru Ngaji hingga Marbot Semarang
Arnaz menilai terdapat tiga unsur penting yang harus menjadi perhatian serius dalam evaluasi penyelenggaraan pertandingan, yakni wasit atau juri, ofisial pertandingan, dan tim medis.
Ketiganya memiliki tanggung jawab berbeda, tetapi saling berkaitan dalam memastikan pertandingan berlangsung aman dan sesuai standar keselamatan.
Pertama, wasit atau juri.
Menurut Arnaz, wasit memiliki kewenangan penuh selama pertandingan berlangsung. Termasuk menentukan apakah pertandingan dapat di teruskan, di hentikan sementara, atau di hentikan sepenuhnya ketika terdapat indikasi atlet mengalami cedera serius.
Karena itu, seorang wasit tidak cukup hanya memahami aturan teknis pertandingan. Mereka juga harus memiliki kepekaan, ketelitian, dan keberanian mengambil keputusan ketika kondisi atlet mulai membahayakan keselamatannya.





