Sementara di sisi lain, Ngasbun juga melihat banyaknya kekurangan dari sistem zonasi. Yang pertama, tak jarang dalam realitasnya ada wilayah yang tidak memiliki sekolah di lingkungannya. Sehingga, calon siswa dari lingkungan tersebut kesulitan dalam mengikuti sistem PPDB jalur zonasi.
BACA JUGA: Sosok Siswa Baru SMAN 1 Semarang yang Duduki Posisi Atas di Jalur Zonasi, Segini Jarak Rumahnya
Selain itu, ia memandang jika sistem zonasi juga berpotensi menyulitkan penyelenggara pendidikan yaitu sekolah di masa depan. Di mana sekolah tidak lagi memiliki kesempatan memilih siswa-siswa terbaik dari tingkat sekolah di bawahnya.
“Karena yang mereka pilih mulai dari kedekatan tempat tinggalnya dan usianya. Maka berarti sekolah tidak punya lagi kesempatan untuk memilih calon siswa terbaiknya,” tandasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





