Gaya Hidup

Film ‘Bila Esok Ibu Tiada’ Siap Bikin Kamu Nangis di Bioskop, Begini Reviewnya

×

Film ‘Bila Esok Ibu Tiada’ Siap Bikin Kamu Nangis di Bioskop, Begini Reviewnya

Sebarkan artikel ini
film Bila Esok Ibu Tiada
Poster film Bila Esok Ibu Tiada. (foto: instagram/@film_indonesia)

SEMARANG, beritajateng.tv – Sebentar lagi, salah satu film bioskop yang banyak orang nantikan kini akan tayang di bioskop. Sebut saja judulnya yaitu Bila Esok Ibu Tiada, sebuah film mengharukan di tahun 2024.

Film ini bakal hadir dengan cerita yang menggambarkan bagaimana kelembutan sosok ibu dalam sebuah keluarga. Suasana semakin hidup lantaran Christine Hakim memerankan langsung sosok ibu dalam film tersebut.

Sembari menunggu tayangnya di bioskop, mending simak terlebih dahulu bagaimana review dari film yang satu ini.

BACA JUGA: Coming Soon! Intip Yuk Sinopsis Film Bila Esok Ibu Tiada yang Bakal Tayang di Bioskop

Review Film Bila Esok Ibu Tiada

Keempat anaknya, yang diperankan oleh Fedi Nuril, Adinia Wirasti, Amanda Manopo, dan Yasmin Napper, menggambarkan sebuah keluarga urban yang terpecah oleh kesibukan masing-masing.

Mereka sering terlibat perselisihan, memperdebatkan siapa yang lebih banyak berperan dalam merawat ibu dan rumah tangga. Si sulung, yang terlambat menikah karena terikat dengan tanggung jawab keluarga, telah banyak berkorban untuk keluarganya.

Namun, perbedaan pandangan di antara mereka memicu ketegangan yang terus meningkat. Di balik semua konflik itu, sang ibu menyimpan sebuah rahasia besar—kesehatannya yang semakin menurun.

Ia menanggung sakitnya sendiri karena tidak ingin menjadi beban bagi anak-anak yang terlalu sibuk dengan ambisi mereka. Sampai akhirnya, suatu hari ia pergi tanpa memberi tahu siapa pun, untuk mengunjungi makam suaminya.

Tak lama setelah itu, sang ibu meninggal dunia, meninggalkan luka, penyesalan, konflik, dan saling menyalahkan di antara keempat saudara tersebut.

BACA JUGA: 5 Alasan Mengapa Kamu Wajib Nonton Film Laura di Bioskop, Penuh Haru dan Tangis!

Dalam kekacauan ini, film ini mengangkat filosofi kintsugi dari Jepang—seni memperbaiki keramik yang retak dengan menggunakan emas, menjadikan pecahan-pecahan itu sebagai keindahan yang baru.

Filosofi ini menjadi simbol pengingat akan keluarga yang retak, yang perlahan harus disatukan kembali setelah kepergian sang ibu. Mereka akhirnya menyadari betapa pentingnya saling mendukung dan memperbaiki kembali ikatan kasih yang sempat pudar.

Sutradara Rudi Soedjarwo berhasil menyampaikan sisi emosional yang mendalam dalam Bila Esok Ibu Tiada, terutama dalam menggambarkan kesedihan, penyesalan, dan kehilangan sosok ibu.

Naskah film ini merupakan adaptasi dari novel karya Nagiga Nuy Ayati, yang mengangkat isu-isu universal seputar keluarga, pengorbanan, dan kesadaran yang sering datang terlambat. (*)

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp