SEMARANG, beritajateng.tv – Batik pewarna alam dari Malon, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, tampil kegiatan Pameran Halal Food Fest 2026 di Kota Semarang. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari gelaran Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI tahun 2026.
Pengurus Paguyuban Galeri Sentra Batik Warna Alam Malon, Putri Merdekawati (47), mengatakan, batik pewarn alam memiliki daya tarik tersendiri di tengah tren busana dengan warna-warna natural. Alih-alih tampil dengan warna mencolok, batik ini mengandalkan nuansa earth tone yang lembut dan cenderung kalem.
Dia bilang, produk yang dipamerkan tidak hanya berupa kain batik. Pengrajin juga menghadirkan pakaian jadi, aksesori hingga produk hasil daur ulang limbah kain.
“Kalau untuk produk yang kami pamerkan, kami jual dan sekaligus dipromosikan. Ada kain batik warna alam sebagai produk utama, kemudian ready to wear, turunannya ada aksesoria seperti syal batik warna alam,” katanya di Matahari Plaza Simpang Lima, Rabu, 16 September 2026.
Soal warna, kata Putri, menjadi salah satu karakter utama yang membedakan batik warna alam dengan yang lainnya. Warna yang dihasilkan berasal dari bahan-bahan alami seperti kayu dan daun yang melalui proses perebusan dan pencelupan.
“Warna-warnanya cenderung soft, dove, tidak mengkilap. Jadi memang berbeda dengan batik-batik yang ada di pasaran,” katanya.
Mengapa Warna Earth Tone Banyak Diminati?
Putri menyebut konsumen yang datang memiliki latar belakang beragam. Selama pameran MTQ Nasional di Semarang, produk Galeri Sentra Batik Warna Alam Malon dilirik masyarakat Semarang dan sekitarnya hingga sejumlah kafilah.
Untuk produk yang paling banyak diminati, kata Putri, kain batik dan pakaian jadi memiliki peminat yang relatif sama.Akan tetapi, konsumen yang tertarik umumnya memiliki kesamaan preferensi, yakni menyukai warna lembut, natural, netral dan earth tone.
BACA JUGA: Kampung Batik Semarang Direvitalisasi, Punya Workshop, IPAL dan Berkonsep Ramah Lingkungan
“Pastinya preferensi orang yang beli senang warna-warna soft, warna-warna earth, warna-warna bumi dan turunannya,” ucap dia.
Tak hanya soal warna, Putri melihat sebagian konsumen mulai memperhatikan aspek lingkungan dalam memilih produk fesyen. Mereka tidak sekadar mempertimbangkan tampilan pakaian, tetapi juga mulai ingin mengetahui bahan serta proses pembuatannya dan dampaknya terhadap lingkungan.
“Orang yang sudah menyadari fesyen yang memperhatikan lingkungan. Ketika kita mengenakan pakaian itu juga enggak asal, tapi memperhatikan dari mana dibuat, bagaimana prosesnya, berdampak enggak buat lingkungan,” katanya.
Produk Batik Dikembangkan Jadi Aksesori
Selain kain dan pakaian, Putri bilang, Galeri Sentra Batik Warna Alam Malon mengembangkan sekitar 10 jenis produk, termasuk syal, anting dan kalung.
Pengrajin juga memanfaatkan limbah untuk menghasilkan produk baru. Salah satunya berupa handbag yang dibuat dari limbah karung plastik bekas pakan hewan peliharaan yang telah melalui proses sterilisasi.
Limbah tersebut kemudian dipadukan dengan perca kain batik sehingga menghasilkan produk fesyen baru.
“Limbah karung plastik kami sterilkan lalu digabungkan dengan perca kain batik. Jadilah handbag,” kata Putri.
Menurutnya, pengembangan produk tersebut menjadi bagian dari upaya pengrajin untuk tidak membuang begitu saja sisa material dari proses produksi batik.
Pameran Jadi Ajang Kenalkan Batik Malon
Bagi para pengrajin, keikutsertaan dalam pameran selama MTQ Nasional XXXI di Semarang tidak semata-mata mengejar transaksi penjualan.
Putri mengatakan, pameran menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk batik warna alam Malon kepada pasar yang lebih luas.
BACA JUGA: Two in One Imlek-Ramadan, Danar Hadi Padukan Keberagaman Bunga Nusantara dalam Balutan Batik
“Kalau pameran itu buat kami promosi. Kalau ada sales atau penjualan itu bonus. Utamanya pastinya promosi, upaya kami menjangkau pasar, upaya kami mendekatkan kepada pasar,” katanya.
Hal itu penting, kata Putri, karena sentra batik warna alam tersebut berada di Gunungpati yang berjarak sekitar satu jam dari pusat Kota Semarang.
Mengapa Anak Muda tertarik Batik Pewarna Alam?
Menariknya, kata Putri, karakter konsumen batik warna alam tidak selalu bisa dibatasi berdasarkan usia. Sebagai contoh, katanya, saat mengikuti pameran di Jakarta, misalnya, produk mereka juga diminati kalangan anak muda.
“Ketika kami pameran di Jakarta, anak muda pun beli. Jadi akhirnya kami lebih mengerucut pada siapa pun orang yang memang cenderung punya preferensi warna lembut, soft, natural atau orang yang sudah aware,” ucap dia.
Putri berharap kegiatan pameran di kawasan pusat Kota Semarang dapat semakin sering digelar. Menurutnya, kegiatan tersebut dapat menjadi kesempatan bagi pelaku usaha di daerah untuk lebih dekat dengan masyarakat sekaligus mengenalkan produk lokal.
“Ini momen penting supaya aset pemerintah seperti ini lebih banyak acara yang digelar di sini, supaya masyarakat kembali lagi ke sini. Karena sebenarnya sangat strategis di tengah kota,” katanya.
Paguyuban Galeri Sentra Batik Warna Alam Malon terdiri dari beberapa kelompok pengrajin, yakni kelompok pengrajin batik Si Putri, Kalialang Batik, Roslina Batik, Batik Malon, Zie Batik, dan Canting Mas Batik. (*)
Editor: Diaz A Abidin





