BLORA, beritajateng.tv – Musim kemarau panjang 2026 ini mulai berdampak serius terhadap sektor pertanian di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Embung Sambongan di Desa Jepangrejo, Kecamatan Blora, mengering sehingga pasokan air untuk lahan pertanian jagung milik petani terhenti.
Petani jagung setempat, Wiji, mengatakan, kondisi tersebut berdampak langsung terhadap tanaman yang telah mereka tanam. Minimnya pasokan air membuat pertumbuhan dan perkembangan buah jagung tidak maksimal.
“Air dari embung selama ini sangat membantu untuk mengairi lahan. Sekarang embung mulai mengering sehingga tanaman jagung kekurangan air,” kata Wiji, Sabtu, 19 September 2026.
BACA JUGA: Terpeleset Saat Cari Ikan di Embung, Bocah 8 Tahun di Bancak Kabupaten Semarang Meninggal Dunia
Puluhan Hektare Tanaman Jagung Terancam Gagal Panen
Kondisi tersebut, kata dia, membuat puluhan hektare tanaman jagung milik petani terancam gagal panen.
Dia bilang, tanaman jagung tidak mampu berkembang maksimal saat kekurangan air pada masa pertumbuhan.
BACA JUGA: Banjir Cepu Blora Terus Berulang, Wabup Blora Usulkan Embung 2,7 Hektare Jadi Solusi Permanen
Kepala Dusun Jepangrejo, Kustadi Ramli, mengatakan, puluhan hektare lahan pertanian warga terdampak mengeringnya Embung Sambongan.
“Embung ini selama ini menjadi andalan petani untuk mengairi lahan. Karena sekarang airnya mengering, puluhan hektare tanaman jagung mengalami gagal panen,” kata Kustadi.
Embung Sambongan Mengering hingga Tampak Tanah Ditumbuhi Rumput
Pantauan di lokasi menunjukkan dasar Embung Sambongan mulai mengering. Tanah yang sebelumnya terendam air kini tampak retak-retak. Sejumlah bagian embung juga terlihat mengalami kerusakan.
Selama ini, kata Kustadi, Embung Sambongan menjadi salah satu sumber irigasi bagi lahan pertanian warga Desa Jepangrejo.
Para petani mengandalkan ketersediaan air dari embung untuk mengairi tanaman mereka, terutama saat memasuki musim kemarau.
BACA JUGA: Embung Balong Sepakung Dikembangkan Jadi Sport Adventure Area, Cocok untuk Camping dan Healing
Saat ini, debit air terus menyusut hingga akhirnya tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan pengairan lahan pertanian.
Para petani kini hanya bisa berharap hujan segera turun untuk mengembalikan ketersediaan air. Apabila kemarau terus berlangsung, mereka khawatir kerugian akibat gagal panen semakin besar.
Kondisi ini sekaligus menunjukkan besarnya ketergantungan pertanian warga terhadap sumber air permukaan saat musim kemarau.
Bagi petani di Jepangrejo, turunnya hujan menjadi harapan untuk menyelamatkan tanaman yang masih tersisa. (*)
Editor: Diaz A Abidin





