Ia menegaskan, tujuan utama wisatawan datang ke suatu daerah ialah menikmati destinasi, bukan atraksi kembang api.
“Kalau secara signifikan menurunkan pengunjung wisata, saya pikir enggak. Karena tujuan wisata itu tidak melihat kembang api, tapi melihat destinasi wisatanya,” ujarnya.
Masrofi mencontohkan, wisatawan yang berkunjung ke Candi Borobudur datang untuk menikmati objek wisata, bukan untuk menyaksikan pesta kembang api.
BACA JUGA: Sambut Tahun Baru, Bupati Semarang Minta Kecamatan Hingga Desa/Kelurahan Gelar Doa Bersama
“Kalau saya pergi ke Borobudur, saya tidak ingin melihat kembang api, tapi melihat lokasi wisatanya. Kembang api itu hanya salah satu atraksi kemeriahan saja. Kalau tidak ada pun tidak masalah,” jelasnya.
Imbauan tersebut, kata dia, justru menjadi bagian dari ajakan pemerintah agar masyarakat dan wisatawan ikut menunjukkan empati terhadap warga yang terdampak bencana.
“Jadi tidak signifikan langsung merosotkan jumlah kunjungan wisatawan. Kita harus mematuhi imbauan pemerintah agar ikut merasakan saudara-saudara kita yang masih kesusahan,” tandas Masrofi.
Polda Jateng Tak Beri Izin Kembang Api, Arahkan Perayaan ke Doa Bersama dan Konser Amal
Sementara itu, dari sisi pengamanan, Polda Jateng menegaskan tidak akan memberikan izin penyelenggaraan pesta kembang api pada malam pergantian Tahun Baru 2026.
Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Artanto, menyebut pihak kepolisian telah mengimbau agar mengarahkan perayaan tahun baru ke kegiatan yang lebih bermanfaat. Misalnya seperti doa bersama, konser amal, dan penggalangan dana untuk korban bencana.
“Kami sudah mengimbau kepada kita semua untuk perayaan malam tahun baru ini kita ubah menjadi konser amal atau juga doa bersama untuk Sumatera, dan diharapkan ada penggalangan dana,” ujar Artanto.
Artanto menegaskan, kepolisian tidak akan mengeluarkan rekomendasi maupun izin kepada penyelenggara acara yang berencana menggelar pesta kembang api.
BACA JUGA: Absen Pesta Kembang Api, Ini Agenda Seru Malam Tahun Baru di Hotel-Hotel Kota Semarang





