SEMARANG, beritajateng.tv – Menyambut peringatan HUT RI, lagu yang jamak terdengar dan masyarakat ketahui sebagai “17 Agustus Tahun 45” kembali menggaung.
Lagu yang sebenarnya berjudul “Hari Merdeka” ini diciptakan oleh seorang tokoh penting, yaitu Muhammad Husein al Muthahar atau lebih dikenal sebagai Husein Mutahar.
Lagu yang penuh semangat kebangsaan ini lahir pada tahun 1946 dan telah menjadi bagian integral dari setiap perayaan kemerdekaan di Indonesia.
Husein Mutahar, seorang pria kelahiran Semarang pada 5 Agustus 1916, tak hanya dikenal sebagai pencipta lagu kemerdekaan.
BACA JUGA: Hemat dan Kreatif, Ini Kumpulan Ide Dekorasi Kemerdekaan 17 Agustus untuk Jalan di Kampung
Ia juga meninggalkan jejak yang mendalam dalam sejarah bangsa dengan berbagai perannya. Salah satunya ialah sebagai pendiri Gerakan Pramuka Indonesia dan pencetus Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka).
Kepanduan yang aktif ia kembangkan, menjadi dasar penting dalam pendidikan karakter generasi muda Indonesia.
Selain kiprahnya di bidang kepanduan, Husein Mutahar juga pernah mengemban tugas sebagai Duta Besar Indonesia di Vatikan pada periode 1969 hingga 1973.
Kehebatannya tak hanya dalam diplomasi, tetapi juga dalam penguasaan enam bahasa asing, yang memperlihatkan betapa luas wawasan dan keterampilannya.
Tak hanya “17 Agustus Tahun 45”, Husein Mutahar gubah banyak lagu nasional
Tak berhenti di situ, Mutahar juga merupakan sosok di balik terciptanya beberapa lagu nasional lainnya yang tak kalah terkenalnya.
Beberapa di antara lagu nasional tersebut yaitu Himne Syukur, Mars Hari Merdeka, Dirgahayu Indonesiaku, dan masih banyak lagi.
Lagu-lagu itu menjadi saksi bisu kontribusi besarnya dalam membangun semangat kebangsaan melalui musik.
Di sisi lain, Husein Mutahar juga masyhur sebagai salah satu ajudan Presiden Soekarno.
BACA JUGA: Bikin Pintar, Ini Kumpulan Soal Cerdas Cermat 17 Agustus Tingkat SD untuk Lomba HUT RI
Ia memiliki peran penting dalam menyelamatkan Sang Saka Merah Putih dari cengkeraman penjajah Belanda, sebuah tindakan heroik yang menambah daftar panjang jasa-jasanya bagi negara.
Menariknya, meskipun mendapat berbagai penghargaan, termasuk Bintang Mahaputera dan Bintang Gerilya, Mutahar menolak untuk bermakam di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Ia lebih memilih peristirahatan terakhirnya di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan, saat meninggal pada 9 Juni 2004 di usia 87 tahun.
Demikian sekilas tentang sosok Husein Mutahar, pencipta lagu “Hari Merdeka” yang jasanya mungkin belum banyak masyarakat luas ketahui.
Semangatnya dalam memajukan bangsa, baik melalui musik maupun dedikasinya di berbagai bidang, tetap abadi dalam ingatan bangsa Indonesia. (*)





