“Banyak yang berpendapat bahwa secara dominan, Pak Harto tidak layak menjadi Pahlawan Nasional. Tapi karena negara memutuskan berbeda, terus mau apa? Kalau mau menerima, ya tolong kurikulumnya sesuaikan juga dengan versi negara. Kita sebagai guru mengikuti sebatas naluri dan menjaga objektivitas,” kata Joseph.
Ia menegaskan, dalam pengajaran sejarah wajib menyampaikan hitam dan putih secara lengkap agar peserta didik mampu menimbang.
“Kalau bicara sejarah, hitam dan putih sampaikan semua. Anak-anak atau peserta didik harus peka dan jernih. Apalagi kurikulum kita sekarang ada kurikulum Merdeka, kurikulum gembira, dan lainnya selalu menekankan nurani dalam pembentukan karakter,” pungkasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi




