Namun, selama Ramadan ruangan tersebut difungsikan sebagai tambahan tempat salat untuk menampung jamaah tarawih yang membludak. Sementara fasilitas menginap berpindah ke bagian belakang masjid untuk jamaah laki-laki, sedangkan jamaah perempuan dapat beristirahat di ruang Unit Kesehatan Masjid.
“Banyak musafir yang datang dari jauh pernah menginap di sini. Mudah-mudahan membawa maslahat dan manfaat bagi umat melalui masjid ini,” cetusnya.
Program Itikaf dan Sahur Bersama hingga Santunan Rutin bagi Warga Sekitar
Memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, Masjid Al-Muhajirin juga menyiapkan program khusus bagi jamaah yang ingin memperbanyak ibadah, terutama pada malam-malam ganjil yang diyakini sebagai waktu turunnya Lailatul Qadar.
Jamaah yang ingin melaksanakan itikaf boleh menginap di area yang telah pengurus masjid sediakan.
“Setiap malam ganjil kami juga menyediakan sahur untuk jamaah. Setelah itikaf, jamaah bisa ikut sahur bersama. Tapi untuk sahur ini kami membuka pendaftaran dulu supaya konsumsi yang kami siapkan sesuai jumlah peserta,” ujar Susilo.
BACA JUGA: Lezatnya Bubur India di Masjid Pekojan Semarang, Aroma Rempah Gurih Favorit Jamaah Saat Ramadan
Tak hanya fokus pada kegiatan ibadah Ramadan, Masjid Al-Muhajirin juga aktif menyalurkan bantuan sosial kepada masyarakat sekitar. Program santunan ini berlangusng secara rutin setiap bulan.
Bantuan tersalurkan kepada berbagai kelompok masyarakat, mulai dari anak yatim, dhuafa, hingga marbot masjid.
“Setiap sebulan sekali masjid juga menyalurkan bantuan kepada masyarakat sekitar. Total ada 43 orang penerima manfaat, mulai dari yatim piatu, dhuafa, hingga marbot,” tandasnya.
Melalui berbagai program tersebut, Masjid Al-Muhajirin menunjukkan peran masjid yang lebih luas, tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kebersamaan, kepedulian sosial, dan penggerak ekonomi masyarakat selama Ramadan. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





