Bangunan tersebut berada di kawasan Spoorlaan, yang secara etimologis berasal dari bahasa Belanda spoor (rel) dan laan (jalan). Nama ini secara harfiah berarti “jalan rel kereta api”, menegaskan fungsinya di masa lalu.
Stasiun Pertama bernama Samarang, Bukan Kemijen
Bukti lain yang memperkuat klaim Sporland sebagai lokasi stasiun pertama adalah nama stasiunnya. Pada arsip foto lama, terpampang jelas tulisan “Samarang”. Hal ini ternilai lebih logis sebagai stasiun pertama di sebuah kota besar, ketimbang menggunakan nama desa seperti Kemijen.
“Kalau stasiun pertama tapi namanya desa, itu kurang masuk akal,” tegasnya.
Stasiun Samarang di Sporland ini melayani penumpang dan barang sekaligus. Bagian selatan di fungsikan untuk penumpang, sementara bagian utara untuk angkutan barang. Bentuk stasiunnya menyerupai huruf U dengan rel buntu, ciri khas stasiun terminus awal.
Dibangun Sejak 1863, Ditinggalkan Setelah Stasiun Tawang Berdiri
Jalur kereta api pertama ini mulai dibangun pada 1863 dan rampung sepenuhnya sekitar 1873, menghubungkan Semarang–Solo–Yogyakarta. Proyek ini sempat tersendat akibat masalah keuangan NIS, hingga akhirnya pemerintah kolonial turun tangan memberikan bantuan.
Pemilihan jalur Semarang–Solo–Yogyakarta bukan tanpa alasan. Wilayah pedalaman Jawa Tengah dan Yogyakarta kala itu terpenuhi perkebunan yang membutuhkan akses cepat ke pelabuhan Semarang untuk mengekspor hasil bumi ke Eropa.
Eksistensi Stasiun Samarang mulai meredup setelah Stasiun Tawang dibangun pada 1914. Sejak itu, fungsi stasiun dipindahkan, sebagian bangunan dibongkar, dan rel disambungkan menuju Tawang.
Kini Permukiman, Keturunan Pegawai Kereta Jadi Penghuni
Setelah tak lagi beroperasi, kawasan stasiun perlahan berubah menjadi permukiman. Penghuninya sebagian besar adalah keturunan pegawai kereta api yang dulu bekerja di sana. Perkiraannya sejak era 1960–1970-an, kawasan ini telah padat penghuni hingga kini.
“Yang tinggal sekarang anak-cucu pegawai kereta api. Mereka sudah turun-temurun di situ,” tutur sejarawan tersebut.





