Kendati begitu, Ema memastikan layanan kontrasepsi untuk laki-laki seperti vasektomi sebenarnya sudah tersedia di berbagai fasilitas kesehatan. Namun, pemanfaatannya masih rendah karena adanya stigma sosial.
“Ini sebenarnya bukan masalah layanan. Layanannya sudah ada, tapi ini tantangan sosial budaya. Sangat sulit membongkar mindset bahwa KB itu bukan hanya tanggung jawab perempuan,” tegas ԁia.
BACA JUGA: DPRD Semarang Soroti Sosialisasi Vasektomi, Minta Disdalduk KB Perjelas Syarat Peserta
Ia menyebut, stigma tersebut membuat laki-laki enggan terlibat dalam program KB, meskipun memiliki peran yang sama dalam perencanaan keluarga.
Menurut Ema, rendahnya partisipasi laki-laki dalam KB juga berkaitan dengan minimnya edukasi kesehatan reproduksi di masyarakat. Ia menilai, selama ini pembahasan soal kesehatan reproduksi masih ԁianggap tabu, bahkan di lingkungan berpendidikan.
“Sebenarnya yang strategis itu kalau pengetahuan kesehatan reproduksi masuk ke sekolah. Tapi banyak orang tua yang menolak karena ԁianggap sama dengan pendidikan seksual, padahal itu berbeda,” ujarnya.
Padahal, tutur Ema, pemahaman tentang kesehatan reproduksi penting untuk membantu masyarakat mengambil keputusan yang tepat, termasuk dalam perencanaan keluarga.
“Pengetahuan masyarakat tentang kesehatan reproduksi masih rendah, apalagi di desa-desa. Ini yang menjadi tantangan besar,” tambahnya.
BKKBN Sebut Capaian KB Jateng Tinggi, Tapi Partisipasi Pria Masih Rendah
Terpisah, Kepala BKKBN Jawa Tengah, Rusman Effendi, menyebut capaian penggunaan kontrasepsi modern di Jawa Tengah sebenarnya cukup tinggi, yakni mencapai 66,7 persen pada 2025, lebih tinggi ԁibanding rata-rata nasional sebesar 60,8 persen.
Namun, ia mengakui partisipasi laki-laki dalam program KB masih rendah. Ia menilai, peningkatan peran laki-laki dalam KB masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu ԁidorong ke depan.
“Secara umum KB di Jawa Tengah bagus, termasuk yang pria juga ada, baik vasektomi maupun kondom, walaupun memang tidak besar, tidak sampai 5 persen,” ujar Rusman, Selasa, 14 April 2026. (*)
Edtor: Mu’ammar R. Qadafi





