“Yang akan dijajaki selanjutnya tentu saja Singapura. Mereka kemungkinan besar tertarik pada pengembangan kawasan industri. Dari yang sudah ada saat ini, yaitu Kawasan Industri Kendal, investornya Sembcorp dari Singapura,” ujar Sakina.
Ia menyebut, Sembcorp yang juga mengembangkan kawasan industri di Vietnam menilai Jawa Tengah masih memiliki peluang besar untuk pengembangan kawasan industri baru.
“Saat mengomparasi dengan Jawa Tengah, pihak Sembcorp atau CEO-nya, Mr. Gareth, sangat tertarik untuk melakukan pengembangan kawasan industri lagi di Jawa Tengah,” imbuhnya.
DPMPTSP Genjot Promosi dan Pendampingan Investor
Untuk mengejar target investasi tahun ini, DPMPTSP Jawa Tengah juga terus menggencarkan promosi investasi serta pendampingan kepada pelaku usaha.
Salah satunya dengan mengimbau pelaku usaha agar tertib menyampaikan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) sesuai jadwal pelaporan setiap triwulan. DPMPTSP juga membuka pendampingan apabila pelaku usaha mengalami kendala saat mengisi laporan.
Selain itu, DPMPTSP bersama Bank Indonesia rutin menggelar Central Java Investment Business Forum (CJIBF), business meeting, hingga menyusun Investment Project Ready to Offer (IPRO) sebagai proyek investasi siap di tawarkan kepada calon investor.
“Saat ini kami sudah memiliki 17 IPRO, dan tahun ini bertambah empat IPRO lagi. Harapannya, dengan banyaknya IPRO yang ditawarkan pada forum investasi, banyak investor yang tertarik melakukan one-on-one meeting. Syukur-syukur bisa berlanjut pada Letter of Intent (LoI), untuk kemudian kami lakukan pendampingan,” jelas Sakina.
PMDN Tertopang Hotel-Restoran dan Ritel
Di samping investasi asing, Sakina mengatakan realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Jawa Tengah juga terus tumbuh. Peningkatan tersebut terdorong oleh sektor industri kayu, hotel, restoran, kafe (horeka), ritel, dan perkantoran.
Menurutnya, Kota Semarang menjadi daerah dengan realisasi PMDN tertinggi karena pertumbuhan sektor ritel yang ikut menggerakkan bisnis pendukung.





