Feature

Kekeringan Panjang, Perajin Besek di Blora Harus Cari Bahan Baku ke Desa Tetangga

×

Kekeringan Panjang, Perajin Besek di Blora Harus Cari Bahan Baku ke Desa Tetangga

Sebarkan artikel ini
Aktivitas perajin besek dan berbagai kerajinan bambu di Desa Kedungsatriyan, Kecamatan Ngawen, Blora. (Heri/beritajateng.tv)perajin besek dan berbagai kerajinan bambu di Desa Kedungsatriyan, Kecamatan Ngawen, Blora. (Heri/beritajateng.tv)
Aktivitas perajin besek dan berbagai kerajinan bambu di Desa Kedungsatriyan, Kecamatan Ngawen, Blora. (Heri/beritajateng.tv)perajin besek dan berbagai kerajinan bambu di Desa Kedungsatriyan, Kecamatan Ngawen, Blora. (Heri/beritajateng.tv)

BLORA, beritajateng.tv – Aktivitas para perajin anyaman bambu di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, harus pandai-pandai mencari bahan baku pada kondisi kekeringan saat ini.

Sejumlah pengrajin kini memang kesulitan mendapatkan bahan baku bambu segar. Oleh karena rumpun bambu jenis ngapus di sekitar tempat tinggal mereka mengalami layu, mengering, bahkan mati.

Kondisi tersebut salah satuny Dian Agus Yulianto, rasakan. Dia merupakan perajin besek dan berbagai kerajinan bambu di Desa Kedungsatriyan, Kecamatan Ngawen, Blora.

BACA JUGA: Sulap Plastik Bekas Jadi Rupiah, Petani Blora Isi Waktu Luang Bikin Kerajinan Tangan

Akibat terbatasnya bahan baku, dia harus berinisiatif mencari bambu ngapus hingga ke desa tetangga agar kegiatan produksi tetap berjalan.

Menurut Dian Agus, bambu yang masih segar sangat dia butuhkan untuk menghasilkan anyaman berkualitas. Sebaliknya, bambu yang sudah kering lebih sulit pengolahannya karena mudah patah saat disisir atau dibelah menjadi bilah-bilah kecil.

“Kalau sudah kering, bambu sering patah saat disisir menjadi bagian-bagian kecil. Karena itu, sekarang kami harus mencari bahan baku sampai ke desa tetangga,” katanya, di Blora, Senin, 2 November 2026.

Usaha Omah Berkah Bambu Barokah

Meski menghadapi kendala bahan baku, pesanan kerajinan yang dia produksi bersama sekitar 35 ibu rumah tangga tersebut tidak mengalami penurunan.

Melalui usaha Omah Berkah Bambu Barokah, mereka memproduksi beragam kerajinan. Mulai dari besek, bakul, tempat lampu, hingga penutup makanan dan berbagai produk anyaman lainnya.

BACA JUGA: Dari Bungkus Pakan Anabul, jadi Kerajinan Eco Handbag Bermotif Geometri Ala Squid Game

Hasil kerajinan tersebut dipasarkan melalui media online atau daring untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Aktivitas produksi pun tetap berjalan di tengah tantangan musim kemarau.

Selain berupaya menjaga keberlangsungan usaha, Dian Agus juga memiliki rencana mengembangkan penanaman bambu bersama dinas terkait di lahan sekitar bantaran sungai.

BACA JUGA: Sensasi Garang Asem Bambu, Kuliner Unik yang Viral dari Tuntang Semarang

Penanaman tersebut dengan harapan dapat menambah ketersediaan bahan baku. Sekaligus membantu menjaga kondisi tanah di sekitar aliran sungai agar lebih kuat dan mengurangi risiko longsor saat debit air meningkat.

Para pengrajin berharap musim kemarau dan dampak kekeringan segera berakhir. Agar rumpun bambu kembali tumbuh dengan baik dan pasokan bahan baku segar lebih mudah warga peroleh. (*)

Editor: Diaz A Abidin

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp