“Nah, dari keterangan teman-teman BGN, makanan itu di masak terlalu dini, sekitar jam 9 malam. Secara garis besar, dari 19 standar operasional prosedur (SOP) yang harus dipenuhi penyelenggara SPPG, hanya tiga yang di penuhi,” ungkapnya.
Menurut Hakam, tiga SOP yang masih SPPG patuhi meliputi penggunaan bahan baku, distribusi makanan, dan proses penyerahan makanan kepada siswa. Sementara 16 SOP lainnya kuat dugaan tidak berjalan sesuai ketentuan.
Ia menjelaskan, makanan siap saji idealnya di masak beberapa jam sebelum distribusi agar kualitas dan keamanannya tetap terjaga.
“Kalau makanan mereka bagikan pagi hari, seharusnya proses memasak mulai sekitar pukul 04.00 atau 05.00 pagi. Setelah matang, makanan sebaiknya langsung didistribusikan dan tidak lebih dari dua jam sebelum konsumsi,” jelasnya.
Hakam menambahkan, tim Dinas Kesehatan juga memeriksa rekaman CCTV di dapur penyedia MBG untuk memastikan seluruh tahapan pengolahan makanan telah sesuai prosedur. Mulai dari penggunaan alat pelindung diri oleh penjamah makanan hingga proses penyimpanan makanan setelah matang.
BACA JUGA: Dinkes Semarang Selidiki Dugaan Keracunan Massal MBG di SMKN 6, 707 Siswa dan Guru Alami Gejala
“Kami cek semuanya melalui CCTV. Misalnya setelah makanan matang apakah langsung di tutup, bagaimana proses penyimpanannya. hingga apakah seluruh SOP berjalan. Semua itu sedang kami telusuri,” katanya.
Selain memeriksa dapur penyedia makanan, petugas juga terus melakukan pemantauan terhadap korban. Hingga saat ini masih terdapat enam pasien yang menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan.
“Alhamdulillah kondisi semuanya terus membaik. Saat ini masih ada enam pasien yang dirawat di RSUD KRMT Wongsonegoro, RS Panti Wilasa Citarum, dan Puskesmas Bangetayu. Mayoritas mengalami mual, muntah, dan diare, tetapi kondisinya terus menunjukkan perbaikan,” ujarnya.
Hakam menyebut seluruh hasil penyelidikan, termasuk hasil pemeriksaan laboratorium dan evaluasi terhadap kepatuhan SOP penyelenggara MBG. Nantinya akan pihaknya sampaikan kepada Badan Gizi Nasional sebagai bahan evaluasi.





