SEMARANG, beritajateng.tv – Dugaan penyebab keracunan massal yang menimpa 707 siswa dan guru SMK Negeri (SMKN) 6 Semarang mulai menemukan titik terang.
Dinas Kesehatan Kota Semarang mengungkapkan proses pengolahan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) kuat dugaan menjadi faktor utama keracunan. Makanan MBG tersebut telah mulai proses memasak sejak pukul 21.00 WIB pada malam sebelum tersaji.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, M. Abdul Hakam, mengatakan hingga kini hasil laboratorium belum keluar karena sampel makanan masih menjalani proses kultur bakteri.
Pemeriksaan tersebut membutuhkan waktu sekitar tujuh hingga 14 hari untuk memastikan jenis bakteri penyebab keracunan.
“Kalau hasil pastinya belum selesai karena sampelnya masih harus di kultur untuk mengetahui apakah ada bakteri penyebab keracunan. Prosesnya membutuhkan waktu sekitar tujuh sampai 14 hari,” ujar Hakam.
Pihaknya telah mengambil sejumlah sampel makanan yang siswa santap, meliputi ayam rendang, daun singkong, tahu, dan telur puyuh. Seluruh sampel kini petugas periksa di laboratorium sebagai bagian dari penyelidikan epidemiologi.
Meski hasil laboratorium belum keluar, hasil asesmen terhadap ratusan korban mulai mengarah pada dugaan menu tertentu.
Berdasarkan wawancara terhadap siswa dan guru yang mengalami gejala, keluhan paling banyak muncul setelah mengonsumsi ayam rendang.
“Dari hasil anamnesis, dugaan paling banyak mengarah ke rendang. Ada juga yang mengarah ke telur dan daun singkong, tetapi persentase tertinggi berada pada rendang,” katanya.
BACA JUGA: Dugaan Keracunan MBG di SMKN 6 Semarang, 10 Siswa Masih Jalani Perawatan
Namun demikian, Hakam menegaskan dugaan tersebut belum bisa menjadi kesimpulan akhir sebelum hasil pemeriksaan mikrobiologi selesai.
Yang menjadi perhatian utama, kata Hakam, adalah proses pengolahan makanan di dapur penyedia MBG.
Berdasarkan keterangan dari Badan Gizi Nasional (BGN), menu untuk SMKN 6 Semarang diketahui sudah dimasak sejak pukul 21.00 WIB atau sekitar malam sebelum didistribusikan kepada siswa keesokan harinya.
“Nah, dari keterangan teman-teman BGN, makanan itu di masak terlalu dini, sekitar jam 9 malam. Secara garis besar, dari 19 standar operasional prosedur (SOP) yang harus dipenuhi penyelenggara SPPG, hanya tiga yang di penuhi,” ungkapnya.
Menurut Hakam, tiga SOP yang masih SPPG patuhi meliputi penggunaan bahan baku, distribusi makanan, dan proses penyerahan makanan kepada siswa. Sementara 16 SOP lainnya kuat dugaan tidak berjalan sesuai ketentuan.
Ia menjelaskan, makanan siap saji idealnya di masak beberapa jam sebelum distribusi agar kualitas dan keamanannya tetap terjaga.
“Kalau makanan mereka bagikan pagi hari, seharusnya proses memasak mulai sekitar pukul 04.00 atau 05.00 pagi. Setelah matang, makanan sebaiknya langsung didistribusikan dan tidak lebih dari dua jam sebelum konsumsi,” jelasnya.
Hakam menambahkan, tim Dinas Kesehatan juga memeriksa rekaman CCTV di dapur penyedia MBG untuk memastikan seluruh tahapan pengolahan makanan telah sesuai prosedur. Mulai dari penggunaan alat pelindung diri oleh penjamah makanan hingga proses penyimpanan makanan setelah matang.
BACA JUGA: Dinkes Semarang Selidiki Dugaan Keracunan Massal MBG di SMKN 6, 707 Siswa dan Guru Alami Gejala
“Kami cek semuanya melalui CCTV. Misalnya setelah makanan matang apakah langsung di tutup, bagaimana proses penyimpanannya. hingga apakah seluruh SOP berjalan. Semua itu sedang kami telusuri,” katanya.
Selain memeriksa dapur penyedia makanan, petugas juga terus melakukan pemantauan terhadap korban. Hingga saat ini masih terdapat enam pasien yang menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan.
“Alhamdulillah kondisi semuanya terus membaik. Saat ini masih ada enam pasien yang dirawat di RSUD KRMT Wongsonegoro, RS Panti Wilasa Citarum, dan Puskesmas Bangetayu. Mayoritas mengalami mual, muntah, dan diare, tetapi kondisinya terus menunjukkan perbaikan,” ujarnya.
Hakam menyebut seluruh hasil penyelidikan, termasuk hasil pemeriksaan laboratorium dan evaluasi terhadap kepatuhan SOP penyelenggara MBG. Nantinya akan pihaknya sampaikan kepada Badan Gizi Nasional sebagai bahan evaluasi.
“Nanti kami akan menyampaikan hasil lengkapnya kepada BGN, mulai dari temuan pelanggaran SOP hingga hasil pemeriksaan mikrobiologi. Keputusan tindak lanjut terhadap penyelenggara menjadi kewenangan BGN,” pungkasnya. (*)





