SEMARANG, beritajateng.tv – Di tengah kehidupan keluarga yang kian bergantung pada gawai, membangun kedekatan emosional antara orangtua dan anak menjadi tantangan yang nyata. Sejumlah riset menunjukkan, kecanduan digital pada anak kerap dipicu oleh kurangnya interaksi hangat dan bermakna di dalam keluarga.
Menjawab kondisi tersebut, Keluarga Kita menggelar kegiatan bertajuk “Main Bareng Keluarga Kita” di Kota Semarang. Acara ini menjadi ruang bagi keluarga untuk kembali terhubung melalui aktivitas bermain bersama, bercerita, dan refleksi pengasuhan tanpa layar.
Kegiatan akan berlangsung pada Minggu, 8 Februari 2026 bertempat di Aula Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Semarang. Momentum ini sengaja hadir pada bulan Februari yang identik dengan Hari Kasih Sayang, sebagai ajakan untuk memaknai cinta melalui kehadiran dan keterlibatan orangtua secara utuh bersama anak.
Rangkaian acara ini untuk melibatkan seluruh anggota keluarga. Anak-anak usia 3–8 tahun akan mengikuti sesi bermain bersama Komunitas Teman Berbincang serta mendengarkan dongeng interaktif bersama Komunitas Kampung Dongeng Semarang. Beragam aktivitas kreatif seperti permainan kelompok, balon terbang, hingga kegiatan imajinatif untuk menstimulasi anak tanpa ketergantungan pada gawai.
BACA JUGA: Banyak Sekolah Rusak, Mohammad Saleh: Pemulihan Pendidikan Pascabencana Harus Jadi Prioritas
Sementara itu, para orangtua akan mengikuti talkshow bertema “Orangtua Cerdas di Era Digital” bersama Komunitas Relawan Keluarga Kita Semarang. Diskusi ini membahas tantangan pengasuhan di era digital, termasuk strategi membangun koneksi emosional agar anak tidak bergantung pada layar.
Tak hanya itu, seluruh keluarga juga diajak mengikuti sesi Main dan Bebikinan bersama Tim Sekolah Murid Merdeka, sebuah aktivitas kolaboratif yang menekankan pentingnya bermain bersama sebagai sarana membangun hubungan yang aman, hangat, dan menyenangkan di dalam keluarga.
Direktur Keluarga Kita, Siti Nur Andini, menegaskan bahwa pemenuhan koneksi emosional menjadi kunci dalam mengurangi ketergantungan anak pada gawai.
“Ketika kebutuhan emosional anak terpenuhi, dorongan mencari validasi instan dari layar akan berkurang dengan sendirinya. Bermain bersama adalah bentuk cinta yang paling sederhana, namun dampaknya sangat besar,” ujarnya.
BACA JUGA: Talkshow di UKSW, Gibran Soroti Pendidikan, Kesehatan, dan Trans Papua
Melalui kegiatan ini, Keluarga Kita ingin mengingatkan bahwa pembatasan layar bukan semata soal aturan. Lebih dari itu, orangtua perlu menghadirkan alternatif yang bermakna dengan meluangkan waktu dan benar-benar hadir dalam interaksi bersama anak.
Keluarga Kita merupakan organisasi pendidikan keluarga berbasis komunitas yang Najelaa Shihab dirikan pada tahun 2012. Organisasi ini mengembangkan kurikulum berbasis riset dan telah menyelenggarakan ribuan kelas pengasuhan di 342 kabupaten di Indonesia. (*)
Editor: Farah Nazila





