Pukul 14.00 WIB, para santriwati meminta makanan kepada polisi yang sedang melintas. Tetapi hingga pukul 16.30 WIB, nasi belum juga mereka berikan. Sementara santri mulai kelelahan dan kelaparan.
Sekitar pukul 17.00 WIB, para santriwati meminta makanan untuk terakhir kalinya, karena kondisi tubuh mereka mulai lemas. Barulah setelah itu makanan polisi berikan.
Sekitar waktu Maghrib, salah seorang wali santri datang ke Polres Sukoharjo agar seluruh santriwati yang polisi tahan bisa pulang. Para santriwati polisi beri tahu, bahwa orang tua masing-masing akan mereka hubungi untuk menjemput mereka pulang. Namun, ternyata polisi berbohong.
Setelah seluruh santriwati bebas dan wali santri jemput, mereka bilang tidak pernah menerima telepon dari pihak kepolisian. Kecuali wali Isyana yang memang terlihat polisi hubungi secara langsung. Balita tiga tahun anak ustadzah yang ikut polisi bawa pun menangis terus menerus trauma ketakutan.
Juga anak ustadzah usia lima tahun sempat hilang yang kemudian warga sekitar Ma’had temukan. Dia terus menangis, trauma dan ketakutan mendalam, sampai akhirnya warga antar ke rumah kakeknya di daerah Semanggi.
Barang-barang yang Polisi Sita
Melalui surat edaran tersebut, Ma’had Hamalatul Qur’an juga menyampaikan beberapa poin penting terkait dampak dari insiden tersebut:





