Klenteng See Hoo Kiong memang identik dengan doa jodoh dan anak. Menurut banyak orang, berdoa kepada Dewi terasa lebih mantap karena lebih serius dan sungguh-sungguh saat memohon perkara jodoh maupun keturunan. Keyakinan itulah yang membuat banyak perempuan muda maupun pasangan baru menikah datang dengan penuh harap.
BACA JUGA: Ada yang Spesial, Intip Jadwal Perayaan Imlek Klenteng Tay Kak Sie Semarang
Para umat yang meminta keturunan biasanya akan berdoa di altar Dewi Tjoe Seng Nio Nio. Sosoknya dihormati sebagai dewi kelahiran dan perawatan anak-anak.
Umat yang berhadap memiliki anak, berdoa dan memohon bantuan Dewi Tjoe Seng Nio Nio agar segera hamil dan mendapat keturunan yang baik, sehat, dan lancar proses kehamilannya.
Ada juga kepercayaan, bahwa setiap orang tua yang baru saja memiliki keturunan, akan memohon persetujuan nama kepada beliau.
Jadi satu dengan altar Dewi Tjoe Seng Nio Nio, ada Dewa Hwa Kong dan Dewi Hwa Po bertugas sebagai dewa perjodohan. Umat yang memohon kelancaran perjodohan dan memohon kelancaran pernikahan, akan mempersembahkan bunga pada malam pernikahan.
Juju mengungkap, banyak kisah menyentuh hati karena keinginan umat untuk mendapatkan jodoh dan keturunan terpenuhi. Namun, menurutnya yang utama tetap ketulusan niat. Doa bukan sekadar ritual, melainkan bentuk kesungguhan hati.
Penjaga Spiritualitas Pecinan
Klenteng See Hoo Kiong didirikan tahun 1881 oleh tiga dermawan yaitu, Tn. Liem Siong Djian, Tn. Sik Khay Hie, dan Tn. Liem Kiem Ling. Klenteng ini juga terkenal sebagai Klenteng See-Liem (marga Liem), karena memang diperuntukkan sebagai tempat berkumpulnya seluruh marga Liem di Kota Semarang.
Arsitekturnya bergaya klasik dengan ornamen simbolik yang kuat. Hiasan atap berfigur mitologis, struktur bangunan kokoh, serta altar utama sebagai pusat sembahyang memperlihatkan perpaduan nilai religius dan estetika budaya.





