SEMARANG, beritajateng.tv – Di tengah riuh aktivitas Pecinan Semarang, Klenteng See Hoo Kiong yang berlokasi di Jalan Sebandaran 1 Kelurahan Gabahan, Kecamatan Semarang Tengah, ini menjadi tempat berlabuhnya doa-doa paling personal, yakni tentang jodoh dan keturunan.
Klenteng ini masyhur sebagai rumah Dewi Jodoh, sosok yang orang-orang yakini membawa berkah pertemuan cinta sekaligus anugerah anak bagi pasangan yang memohon dengan tulus.
Tak sedikit yang datang dengan hati penuh harap; ada yang menanti pasangan hidup, ada pula yang telah lama menikah namun belum juga beroleh momongan.
BACA JUGA: Ikhtiar Spiritual Jelang Tahun Kuda Api, Klenteng Tay Kak Sie Bersih-Bersih Rupang
“Ya banyak kok yang datang ke sini buat minta jodoh. Ada juga yang minta keturunan,” ujar Juju, Ketua Harian Klenteng See Hoo Kiong. kepada beritajateng.tv pada Jumat, 13 Februari 2026.
Menurutnya, tak bisa menghitung pasti jumlah umat yang datang; ada yang datang sekali, ada pula yang kembali lagi karena merasa doanya belum terkabul.
“Ada yang langsung dapat jodoh, ada juga yang belum. Ada yang habis minta, beberapa waktu kemudian datang lagi. Semua kembali ke ketulusan hatinya. Kamu minta, tapi hatimu enggak srek, ya percuma,” tuturnya.
Ritual Sederhana Penuh Makna Mendalam di Klenteng See Hoo Kiong
Ritual di hadapan Dewi Jodoh berlangsung sederhana. Umat biasanya membawa air mineral untuk didoakan sekaligus persembahan untuk Dewa atau Dewi. Ada pula yang membawa makanan sebagai pelengkap sembahyang.
Bagi yang doanya terkabul, bertemu jodoh atau akhirnya hamil setelah lama menanti, mereka kembali sebagai bentuk nazar dan rasa syukur. Tradisinya cukup membawa tiga buah jeruk, tiga apel, dan tiga pir.
“Mentraktir [Dewa atau Dewi] itu ya buah tiga-tiga saja sudah cukup,” jelas Juju.
Bahkan, ada pasangan yang datang kembali saat sudah hamil, sebagai bentuk terima kasih sekaligus memohon kelancaran hingga persalinan.





