AI melakukan nyaris semua yang tersebut dalam kedua ujaran itu. Ia mengadakan sesuatu yang pernah ada. Ia membuat sesuatu yang pernah dibuat. Ia tidak menciptakan sesuatu yang baru (sekadar terlihat seolah baru) di bawah matahari. Ia meminjam karya orang lain dalam database miliknya sebagai bahan penciptaan. Tapi yang jelas, ia memang kerap kali kedapatan mencuri. Sebagain orang yang pro AI akan menganggapnya hebat, dan sebagian yang lain akan terus melontarkan kontra.
Terhadap mereka yang pro AI, saya bisa saja tolak-menolak, tak sependapat dengan mereka. Sementara terhadap mereka yang kontra AI, saya boleh jadi tarik-menarik, sependapat dengan mereka. Demikianlah bagaikan magnet saya memiliki kutub yang pro sekaligus kutub yang kontra: saya setuju AI sungguh membantu dalam ihwal sebagai tools pengolah; tetapi ia sebagai pencipta dari ketiadaan (alias semata bermodal prompt), saya: Enggak dulu, deh…. (*)
Mu’ammar R. Qadafi
Editor beritajateng.tv


