Gaya Hidup

Mengenal Rumah Arwah, Tradisi Kirim Doa Untuk Leluhur di Masa Imlek

×

Mengenal Rumah Arwah, Tradisi Kirim Doa Untuk Leluhur di Masa Imlek

Sebarkan artikel ini
Perajin rumah arwah legendaris di Kota Semarang, Ong Bing Hok, imlek
Perajin rumah arwah legendaris di Kota Semarang, Ong Bing Hok. (Fadia Haris Nur Salsabila/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Pembakaran rumah arwah menjadi salah satu tradisi yang kerap orang-orang Tionghoa lakukan menjelang perayaan Imlek.

Orang Tionghoa percaya membakar rumah arwah yang terbuat dari bambu dan kertas itu merupakan sarana untuk mengirim doa sekaligus menghormati leluhur yang telah meninggal dunia.

Di Kota Semarang, salah satu pengrajin rumah arwah yang masih bertahan adalah Ong Bing Hok. Ong, sapaan akrabnya, merupakan pengrajin ruang arwah generasi keempat.

Seperti tahun biasanya, pesanan rumah arwah kian meningkat saat menjelang Imlek seperti saat ini.

“Rumah arwah ini biasanya di gunakan untuk upacara leluhur menjelang Imlek, jadi sekarang sudah agak ramai. Lebih ramai dari biasanya, karena banyak sembahyangan, banyak orang yang ngirim rumah, uang, dan pakaian,” ucap Ong kepada beritajateng.tv, belum lama ini.

BACA JUGA: Pertamina Antisipasi Ketersediaan BBM Selama Libur Panjang Isra Mikraj dan Imlek 2025

Ong menyebut, rumah arwah secara kasat mata memang mirip miniatur rumah seperti biasanya. Mulai dari bangunan utama, halaman, almari, baju, gunung emas, pakaian, koper, kendaraan, hingga orang-orangan.

Untuk model rumahnya pun cukup beragam. Seperti rumah biasa, hotel, cafe, restoran, dan masih banyak lagi.

Hanya saja, rumah arwah memiliki aturannya sendiri. Yakni, desain rumah arwah tak boleh dibuat sama dengan rumah yang ada di dunia.

Model yang dibuat tidak boleh sama dengan yang ditempati di dunia. Soalnya kalau kita bikin rumah yang ditempati di dunia, seolah-olah rumahnya ada di sana. Biar tidak ada gangguan, harus dibikin beda,” papar Ong.

Lebih lanjut, Ong membutuhkan waktu antara satu hingga dua minggu untuk menyelesaikan satu rumah arwah. Tergantung ukuran dan tingkat kesulitannya.

Sejauh ini, Ong telah menyelesaikan sejumlah pesanan rumah arwah untuk perayaan Imlek nanti. Kebanyakan pesanan berasal dari luar Kota Semarang.

“Nanti tanggal 25 ngirim ke Solo, lalu tanggal 27 ke Pekalongan. Kalau yang Banjirmasin, pemesan datang kesini karena tau di Semarang ada yang bikin rumah arwah. Terus upacaranya di Semarang,” ucapnya.

BACA JUGA: Semarak Jelang Imlek, Penjualan Angpao dan Pohon Sakura di Kota Semarang Mulai Laris Manis

Kedepannya, Ong berharap kerajinan rumah arwah masih mampu bertahan di tengah kemajuan zaman. Ia ingin, generasi muda mengenal dan melestarikan rumah arwah.

“Saran saya, mungkin melalui sekolah, pelajaran, atau keagamaan, lalu di kenalkan kepada anak-anak sekarang bisa jadi lebih berkembang,” tandas Ong. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp