Gaya Hidup

Mengenal Slompret Kematian yang Masih Eksis di Semarang, Peninggalan Belanda sebagai Tanda Berita Duka

×

Mengenal Slompret Kematian yang Masih Eksis di Semarang, Peninggalan Belanda sebagai Tanda Berita Duka

Sebarkan artikel ini
Slompret Kematian semarang
Salah satu warga Kampung Kentangan menunjukkan Slompret Kematian, terompet yang digunakan untuk mengabarkan berita duka. (Fadia Haris Nur Salsabila/beritajateng.tv)

“Untuk mencari akar tradisi Slompret Kematian tidaklah gampang. Hampir tidak ada referensi sahih yang bisa menjelaskan. Para tetua kampung hanya bisa menerangkan bahwa tradisi itu sudah ada sejak lama. Sejak kapan? Sedari mereka kecil,” jelas Rukardi.

Namun demikian, ia menduga tradisi mengabarkan berita lelayu dengan tiupan terompet sudah sejak zaman Belanda. Sebab, kata dia, terompet adalah alat musik tiup produk budaya Barat.

BACA JUGA: Semaan Al Qur’an di Masjid Kauman Semarang

Selain itu, slompret juga berperan sebagai representasi dari terompet sangkakala yang akan ditiup Malaikat Isrofil.

“Suara terompet yang melengking bisa didengar dari jarak jauh. Terlebih suasana kampung di Semarang pada masa lalu tidak seberisik sekarang,” sebutnya.

Beberapa kampung di Semarang yang masih menggunakan slompret ialah kampung-kampung lama. Seperti di sekitar Wonodri, Kauman, Kulitan, Tegalsari, Rogojembangan, Bongsari, Baterman, Layur, Tandang, Petompon.

Sementara kampung lainnya kini telah memanfaatkan mikrofon masjid atau mushola untuk menggantikan slompret dalam mengabarkan berita duka. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp