Harapan serupa tumbuh dalam ԁiri Diva Aprilia (12), siswi kelas 7-B SRT 1 Banyumas. Sebelum masuk sekolah tersebut, ia belajar di SD Negeri Datar, Kecamatan Sumbang. Ayahnya bekerja sebagai buruh harian lepas, sedangkan ibunya mengurus rumah tangga.
Diva menyukai kegiatan menggambar, terutama karakter anime dan pemandangan. Kegemaran itu, bahkan pernah menjadi cara sederhana untuk mendapatkan uang saku. Sesekali, ia menjual hasil gambarnya agar bisa membeli kebutuhan sekolah atau alat tulis.
Kini, minatnya berkembang. Selain menggambar, Diva mulai menulis cerita pendek bergenre fantasi. Namun, ԁia menyimpan cita-cita menjadi desainer, membuka butik, serta merancang dan menjahit pakaian sendiri.
“Kalau ibu (ibunda Diva) ingin membeli baju, saya ingin bisa mendesain dan menjahitnya sendiri. Selain lebih hemat, nantinya juga bisa menjadi usaha,” katanya.
Diva mengaku lebih mudah memahami pelajaran di Sekolah Rakyat ԁibandingkan ketika masih duduk di sekolah dasar. Cara guru menjelaskan materi membuatnya lebih mudah mengikuti pembelajaran dan tidak cepat menyerah ketika menemukan kesulitan.
BACA JUGA: Percepat Pembangunan Sekolah Rakyat di Cepu, Pemkab Blora Genjot Koordinasi dengan Kemensos dan KemenPU
Di SR, ԁia mengaku lebih muda menerima pelajaran ԁibandingkan dengan saat di sekolah dasar.
Meskipun demikian, tinggal jauh dari orang tua, pada awalnya bukan hal mudah. Dia harus menyesuaikan ԁiri dengan lingkungan baru dan rutinitas berasrama. Seiring waktu, kebersamaan dengan teman-teman dan perhatian para pengasuh membantunya merasa lebih nyaman.
Diva berharap pihak sekolah dapat menyediakan kegiatan ekstrakurikuler menggambar. Banyak siswa memiliki kegemaran serupa, sehingga kegiatan tersebut bisa menjadi ruang untuk mengasah kreativitas dan mengembangkan kemampuan.
Baginya, kesempatan belajar di Sekolah Rakyat membuka jalan untuk mengembangkan minat yang sebelumnya tumbuh secara sederhana di rumah.





