Belum tentu tersedia SPBU permanen, sehingga pengendara tersarankan memastikan bahan bakar kendaraan terisi penuh sebelum memasuki jalur fungsional agar tidak mogok di tengah perjalanan.
Keempat, terkait rambu dan pembatas jalan. Pada beberapa titik, pagar pengaman (guardrail) kemungkinan belum terpasang di seluruh sisi jalan.
“Pengemudi harus tetap fokus pada lajur, terutama di area tikungan atau tepi jembatan,” tambah akademisi Program Studi Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata ini.
Kelima, yang tidak kalah penting adalah kondisi fisik pengendara dan kendaraan. Pemudik harus memastikan kendaraan dalam kondisi prima, termasuk ban, rem, dan mesin.
Hal ini penting karena akses bantuan seperti mobil derek atau ambulans kemungkinan membutuhkan waktu lebih lama untuk menjangkau lokasi di jalur tol fungsional yang aksesnya masih terbatas.
Djoko juga menilai keberadaan tol fungsional segmen Bawen–Ambarawa dan segmen Prambanan–Purwomartani bukan sekadar untuk memangkas waktu tempuh perjalanan.
BACA JUGA: Longsor Ancam Rumah Warga, DPRD Kabupaten Semarang Soroti Lambannya Penanganan
Lebih dari itu, tol fungsional merupakan upaya kolektif untuk menciptakan perjalanan mudik Lebaran yang lebih aman dan manusiawi. Kelancaran arus lalu lintas sangat bergantung pada sinergi antara kesiapan infrastruktur dan kedisiplinan pengendara.
“Perjalanan pulang kampung tahun ini harapannya menjadi momentum untuk berkendara dengan selamat sekaligus menikmati potensi daerah yang dapat ditemui sepanjang perjalanan,” tandasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





