Sementara itu, General Manager Project High Risk Pakuwon Group, Paulus Louw, menegaskan pekerjaan yang sedang berjalan belum memasuki tahap pembangunan pusat perbelanjaan maupun bangunan komersial lainnya.
Aktivitas yang berjalan saat ini masih berupa pematangan lahan dan pemasangan soldier pile atau struktur penahan tanah.
“Kami masih dalam tahap pematangan lahan dan belum pembangunan. Untuk mengatasi tanah gerak, kami gunakan soldier pile. Soldier pile bukan pondasi bangunan. Fungsinya untuk menjaga stabilitas lereng dan mengurangi risiko pergerakan tanah di kawasan pengembangan,” jelas Paulus.
Menurutnya, teknologi tersebut justru di rancang untuk memperkuat kawasan Gombel Lama yang selama ini terkenal sebagai salah satu wilayah rawan pergerakan tanah di Kota Semarang.
Jangan Abaikan Aspek Keselamatan dan Kenyamanan Lingkungan
Ketua Komisi C DPRD Kota Semarang, Rukiyanto, menegaskan bahwa investasi besar tidak boleh mengabaikan aspek keselamatan lingkungan dan kenyamanan masyarakat sekitar.
“Investasi ini tentu menjadi peluang besar bagi Kota Semarang. Namun keselamatan warga dan kondisi lingkungan harus menjadi prioritas utama. Jangan sampai pembangunan justru menimbulkan persoalan baru di kemudian hari,” tegasnya.
Menurut Ruki, kawasan Gombel Lama memiliki karakteristik geologi yang kompleks karena berada di wilayah yang memiliki riwayat tanah bergerak dan kerentanan lereng.
Kondisi tersebut membuat pengawasan terhadap seluruh proses pembangunan harus terlaksana secara ketat.
“Kami mendukung investasi, tetapi pengembang juga harus memberikan jaminan bahwa dampak terhadap masyarakat dapat kita minimalkan dan tangani dengan baik,” katanya.
Pemkot dan Dewan Turut Mengawasi
Di sisi lain, Kepala Dinas Penataan Ruang Kota Semarang, Ferry Kuntoaji, memastikan pemerintah akan terus mengawasi proses pematangan lahan yang sedang berlangsung.
Ia berharap penerapan teknologi stabilisasi lereng yang pengembang lakukan dapat menjadi solusi terhadap persoalan pergerakan tanah yang selama ini terjadi di kawasan Gombel Lama.
“Kami akan terus melakukan pengawasan. Harapannya teknologi ini mampu membantu mengurangi risiko pergerakan tanah serta memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar,” ujar Ferry.





