Gaya Hidup

Pameran Seni Rupa ‘Beyond Language’, Satukan Bahasa Ekspresi dari Empat Perupa

×

Pameran Seni Rupa ‘Beyond Language’, Satukan Bahasa Ekspresi dari Empat Perupa

Sebarkan artikel ini
pameran seni semarang
Sejumlah pengunjung saat menikmati pameran bertajuk ‘Beyond Language’ di De Warisan Art & Curio. (Fadia Haris Nur Salsabila/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Empat perupa lintas aliran, Mona Palma, Tan Markaban, Moses Foresto, dan Darma Lungit menggelar pameran bertajuk ‘Beyond Language’ di De Warisan Art & Curio yang berlokasi di Jalan Suari Nomor 08, Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang. Pameran yang menghadirkan Dr. Mikke Susanto sebagai Pengantar Pameran ini berlangsung dari tanggal 19 November hingga 13 Desember 2023.

Mikke Susanto menjelaskan, ia sebenarnya dipersiapkan sebagai kurator pameran. Namun, karena mode penelitian atau kinerja kuratorial yang terlalu singkat, yakni hanya 1.5 hari, ia tidak bertindak sebagai kurator sepenuhnya.

Mikke pun lebih suka menyebut dirinya sebagai Pengantar Pameran pada ‘Beyond Language’ ini, seseorang yang memberikan apresiasi terhadap keempat perupa.

“Seperti pada umumnya, setiap pelukis tentu saja memiliki perbedaan dan keunikan kisah dan konsep berkarya. Tutur kata dalam berkomunikasi mereka juga terkadang mengalir deras dan mengasyikkan hingga kadang tak berstruktur,” kata Mikke.

Lantas, lanjut Mikke, komunikasi dan cara berbahasa rupa-lah yang jadi pengikat perupa dalam pameran ini. Ia menyebut, arti language atau ‘bahasa’ dalam seni lukis dekat dengan kemampuan mengomposisikan berbagai elemen seperti warna, garis, tekstur, atau berbagai teknik pencampuran.

BACA JUGA: Pameran Seni Rupa Lintas Agama, Memotret Kebhinekaan dalam Rangka Hari Santri Nasional

Oleh karena itu, tajuk pameran ‘Beyond Language’ sendiri bertujuan untuk mengungkap ide dari keempat perupa dan membahasakannya agar mampu menjadi pengalaman semua pihak.

“Saya menangkap ada kesamaan dan kebedaan di dalamnya. Kesamaan antar keempatnya yang pertama terletak pada jenis atau pilihan objek yang menjadi ekspresi bahasa dalam karya-karyanya. Objek yang mereka pilih adalah menarasikan sejarah diri, tuntutan, dan harapan, atau kehendak individu pelukisnya sendiri, bukan tentang atau dari orang lain dan bukan dokumentasi realitas di luar diri mereka,” lanjutnya.

Menyatukan Perbedaan dan Persamaan Keempatnya

Selain persamaan, tentu keempatnya memiliki perbedaan. Menurut Mikke, Tan Markaban menganggap melukis sebagai pelepasan terapi diri atas berbagai gejala yang melingkupi dirinya sendiri seperti kecemasan, kegalauan, dan kegembiraan. Sedangkan Darma Lungit lebih menyuguhkan karya tentang suasana diri di tengah kesadaran spiritual. Yaitu sikap-sikap religiusitas di dalam jiwanya.

Lanjut Mikke, Mona Palma membawa lukisan-lukisan yang merupakan tiruan alam yang ia tuangkan dengan gaya realistrik. Terakhir, Moses Foresto memilih untuk menyajikan lukisan dengan konsep universalitas atau keberagaman visual, mulai dari ketiadaan konvensi, anjuran, konsepsi, atau batasan dalam berkarya.

“Dari perbedaan ide dan cara ungkap visual keempatnya, menjadikan lukisan memiliki makna yang berlapis-lapis, multi-makna dan multi fungsi,” tandas Mikke.

BACA JUGA: Pameran Seni Rupa FKY 2023 Gandeng 30 Perupa, Angkat Tema Ketahanan Pangan

Salah satu pengunjung asal UIN Walisongo Semarang, Rizka, mengaku senang dengan pameran ini. Sebagai mahasiswa luar kota yang sedang berkuliah di Semarang, ia berharap pameran seni seperti ini bisa semakin banyak ada, khususnya di sekitar di kawasan Kota Lama.

“Sebenarnya baru tau ada gallery seni di Kota Lama, soalnya dari luar kaya coffeshop. De Warisan bisa jadi destinasi wisata karena tempatnya instagramable banget, jadi lukisan-lukisan kaya gini bisa dinikmati lebih banyak pengunjung,” katanya.(*)

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp