Menurut Agustina, cerita Semarang tidak hanya berada di kawasan Kota Lama atau Lawang Sewu, tetapi juga muncul dari kehidupan kampung, kreativitas anak muda, kuliner, dan kisah keseharian yang belum tentu tercatat dalam sejarah.
“Kalau seorang artis atau penulis tidak terlibat dalam masyarakat, karya yang dihasilkan terasa kosong, tidak ada jiwanya,” tutur Louis.
Laki-laki kelahiran 1962 ini sudah cukup lama berkiprah di dunia sastra. Karya-karyanya juga mendapat pengakuan melalui sejumlah penghargaan. Di antaranya Prix du Jury pada 2018 untuk Avant que les ombres s’effacent, serta Goncourt Choice of Poland dan Goncourt Choice of Switzerland pada 2019 untuk Mur Méditerranée dan Prix Goncourt de la Poésie pada 2024.
“Saya menjamin bahwa saya tidak akan menulis secara kosong tanpa jiwa. Saya pasti juga akan menjadi bagian dari masyarakat Semarang. Saya akan menulis dengan sangat serius. Itu janji saya,” tandasnya. (*)





