Ekbis

FGD di Semarang, LPS Ungkap 3 Kunci Penguatan Tata Kelola dan Mitigasi Risiko BPRS

×

FGD di Semarang, LPS Ungkap 3 Kunci Penguatan Tata Kelola dan Mitigasi Risiko BPRS

Sebarkan artikel ini
Direktur Eksekutif Tata Kelola, Risiko dan Kepatuhan LPS Arinto Wicaksono,
Direktur Eksekutif Tata Kelola, Risiko dan Kepatuhan LPS Arinto Wicaksono, memberikan paparan dalam kegiatan Enterprise Risk Management (ERM) Practice Sharing bertema “Penguatan Tata Kelola dan Kepatuhan dalam Mitigasi Potensi Risiko pada Bank Perekonomian Rakyat Syariah” di Semarang, Rabu 9 September 2026. (Foto: Dok. ERM)

SEMARANG, beritajateng.tv – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mendorong Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS) untuk terus memperkuat tata kelola, manajemen risiko dan kepatuhan. Hal ini dalam upaya menghadapi dinamika serta tantangan industri perbankan yang semakin kompleks.

Direktur Eksekutif Tata Kelola, Risiko dan Kepatuhan LPS Arinto Wicaksono, mengatakan, ada sejumlah tantangan bagi BPRS. Di antaranya perubahan lingkungan bisnis, perkembangan teknologi, meningkatnya ekspektasi masyarakat, dinamika kualitas pembiayaan, dan berbagai faktor risiko lainnya.

Direktur Eksekutif Tata Kelola, Risiko dan Kepatuhan LPS Arinto Wicaksono, memberikan paparan dalam kegiatan Enterprise Risk Management (ERM) Practice Sharing bertema “Penguatan Tata Kelola dan Kepatuhan dalam Mitigasi Potensi Risiko pada Bank Perekonomian Rakyat Syariah” di Semarang, Rabu 9 September 2026. (Foto: Dok. ERM)

“Sejumlah risiko yang berpotensi muncul yakni, risiko operasional, kepatuhan, hukum hingga berbagai potensi fraud atau kecurangan. Hal ini perlu mendapatkan perhatian serius dari industri,” kata Arinto dalam kegiatan Enterprise Risk Management (ERM) Practice Sharing bertema “Penguatan Tata Kelola dan Kepatuhan dalam Mitigasi Potensi Risiko pada Bank Perekonomian Rakyat Syariah” di Semarang, Rabu 9 September 2026.

3 Hal Penting untuk Perhatian BPRS

Arinto mengatakan, ada tiga hal penting yang perlu menjadi perhatian BPRS dalam memperkuat tata kelola dan memitigasi berbagai potensi risiko.

Pertama memperkuat tone from the top. Maksudnya, memulai penguatan tata kelola dari jajaran pimpinan. Artinya Direksi dan Dewan Komisaris akan menjadi contoh bagi seluruh organisasi.

“Jika pimpinan memberikan contoh integritas, kehati-hatian, kepatuhan, dan transparansi, maka nilai tersebut akan lebih mudah menjadi budaya organisasi,” katanya.

BACA JUGA: Solo Dorong Wellness City, Healthy Aging Jadi Peluang Ekonomi Baru

Kedua, kata dia, mengedepankan manajemen risiko yang proaktif. BPRS perlu memiliki kemampuan untuk membaca early warning signal sebelum suatu permasalahan berkembang menjadi risiko yang lebih besar.

Dengan demikian, ucap Arinto, fungsi pengawasan dan pengendalian tidak hanya mengarah untuk menemukan kesalahan. Lebih dari itu juga untuk mencegah terjadinya kesalahan.