SEMARANG, beritajateng.tv – Ketua Perkumpulan Boen Hian Tong Semarang, Harjanto Halim menyatakan kurangnya urgensi dari penulisan ulang sejarah Indonesia.
Penulisan ulang sejarah Indonesia memang penting untuk mengungkap sejarah Indonesia yang perlu untuk luruskan. Hal itu penting karena Indonesia telah absen selama 26 tahun dalam penulisan sejarah.
Namun, hal itu tidak menjadi urgensi yang harus diprioritaskan. Harjanto berpendapat bahwa saat ini Indonesia lebih membutuhkan program untuk mendorong perkonomian nasional.
“Kalau yang ditanya sekarang ini urgent atau tidak, kurang kalau menurut saya. Sekarang ini yang dibutuhkan daya dorong ekonomi nasional,” katanya saat beritajateng.tv hubungi pada Selasa, 8 Juli 2025.
BACA JUGA: Harjanto Halim Soal Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia: Butuh Objektivitas Tanpa Provokasi
Harjanto mengatakan bahwa kondisi perekonomian tidak baik-baik saja. Indonesia lebih membutuhkan program pemerintah khususnya di sektor perekonomian.
“Lihat kondisi sosial ekonomi sekarang saya lebih pikir kalau pemerintah punya program ekonomi yang lebih substantif dan berdampak itu sekarang yang lebih di butuhkan. Ekonomi khususnya,” ujarnya.
Revisi atau pelurusan dari pada penulisan ulang sejarah
Harjanto berpendapat bahwa lebih baik melakukan pelurusan sejarah dari pada menulis ulang sejarah.
“Ada fakta-fakta sejarah yang perlu di luruskan, ada yang perlu di ungkap gitu. Menurut saya mungkin nggak usah penulisan ulang sejarah tapi mungkin per topiklah pelurusan sejarah ya kan supaya yang terjadi sebenarnya seperti ini,” tuturnya.
Dia juga menyatakan bahwa penulisan ulang sejarah ini pasti menimbulkan kontroversi. Oleh karena itu, penulisan ulang sejarah ini harus terlaksana secara objektif dan tidak perlu mengeluarkan pernyataan yang mengundang pro dan kontra.
Penulisan ulang sejarah harus benar-benar sesuai dengan peristiwa yang terjadi. Baik buruknya peristiwa yang terjadi di masa lalu akan tetap menjadi sejarah sebuah bangsa.
“Jangan takut untuk mengakui, sejarah bangsa di dunia mana pun nggak ada bangsa yang perjalanannya itu mulus dan benar semua,” katanya.
Dia berharap penulisan ulang sejarah ini tidak menuliskan peristiwa-peristiwa baik saja.





