SEMARANG, beritajateng.tv – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Tengah menilai tingkat hunian hotel selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025-2026 relatif stabil dibanding tahun sebelumnya. Meski demikian, distribusi okupansi dinilai tidak merata dan menunjukkan pergeseran minat wisatawan.
Ketua PHRI Jawa Tengah, Heru Isnawan, menyebut hotel-hotel berbintang besar justru menjadi kelompok yang paling diuntungkan selama periode Nataru tahun ini.
“Kalau dibandingkan tahun lalu relatif ya. Kalau pun ada penurunan, tidak signifikan. Tapi yang peningkatannya cukup tajam memang hotel-hotel bintang besar, bintang empat ke atas sampai lima,” ujar Heru saat beritajateng.tv hubungi via panggilan WhatsApp, Sabtu, 3 Januari 2025.
BACA JUGA: Imbas Larangan Pesta Kembang Api, Okupansi Hotel di Semarang Turun Hingga 20 Persen
Menurutnya, hotel bintang empat dan lima di sejumlah daerah mampu mencatat tingkat hunian hingga 80 sampai 100 persen pada hari-hari tertentu selama libur panjang.
Sementara itu, kata Heru, hotel kelas menengah ke bawah mengalami kondisi yang lebih variatif. Heru menegaskan, faktor penentu utama bukan semata musim liburan, melainkan kekuatan destinasi di daerah masing-masing.
“Hotel-hotel di bawah itu ya masih di kisaran 40 sampai 70 persen. Ada juga yang bisa 80, tapi tidak merata. Kalau destinasinya bagus dan kuat, pasti tingkat huniannya juga bagus. Tapi kalau daerahnya miskin destinasi, ya kunjungannya rendah,” katanya.
Okupansi hotel dekat wisata alam justru turun, PHRI soroti faktor bencana
Di luar dugaan, Heru mengungkap bahwa sektor wisata alam justru mengalami penurunan cukup tajam dibandingkan Nataru tahun sebelumnya. Temuan ini ia peroleh dari laporan sejumlah pelaku hotel di kawasan wisata alam.
“Yang agak mengejutkan justru wisata alam. Info dari beberapa teman itu turun daripada tahun kemarin, dan cukup tajam,” ungkap Heru.
Ia menduga, penurunan tersebut berkaitan erat dengan meningkatnya kewaspadaan wisatawan terhadap potensi bencana alam.
“Mungkin ada korelasinya dengan banyaknya bencana. Jadi orang lebih worry, lebih berhati-hati,” ujarnya.
BACA JUGA: Absen Pesta Kembang Api, Ini Agenda Seru Malam Tahun Baru di Hotel-Hotel Kota Semarang
Heru mencontohkan kawasan wisata Guci di Kabupaten Tegal yang sebelumnya sempat terlanda banjir bandang. Meski pemerintah dan pejabat setempat telah menyampaikan bahwa kondisi sudah aman dan kejadian hanya terlokalisir, dampaknya masih terasa.
“Guci itu contohnya. Meskipun sudah dinetralisir informasinya, dibilang kondisinya baik dan hanya di titik tertentu, tapi kelihatannya belum cukup mendongkrak kunjungan,” katanya.
Menurut Heru, persepsi publik menjadi tantangan tersendiri dalam pemulihan wisata alam pascabencana.
“Kadang orang sudah terlanjur khawatir. Jadi meskipun secara teknis aman, minatnya belum langsung kembali,” ujarnya.
Tiket penerbangan domestik mahal, wisatawan pilih ke luar negeri
Selain faktor bencana, Heru juga menyoroti tren meningkatnya wisata ke luar negeri yang ikut memengaruhi pariwisata domestik, termasuk tingkat hunian hotel di sejumlah daerah.
Ia mengakui, mahalnya tiket pesawat domestik menjadi salah satu faktor pendorong wisatawan memilih berlibur ke luar negeri. Ia bahkan menyebut adanya fenomena wisatawan yang memilih rute transit ke luar negeri demi mendapatkan harga lebih murah untuk bepergian ke wilayah lain di dalam negeri.
“Kami di asosiasi sudah sering menyampaikan soal ini. Saya enggak tahu kenapa di kita tiket pesawat bisa mahal. Ada teman-teman yang mau ke Medan malah lewat Kuala Lumpur dulu, karena lebih murah. Bisa sekalian main sebentar. Ini kan sebenarnya memprihatinkan,” ungkapnya.
BACA JUGA: Jelang Libur Nataru, Tingkat Okupansi Hotel di Kota Semarang Masih di Bawah 70 Persen
Menurut Heru, kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan serius, baik dari sisi regulasi maupun struktur biaya industri penerbangan domestik. Heru menegaskan, mahalnya tiket pesawat domestik jelas berdampak pada pariwisata dalam negeri.
“Kalau ke luar negeri bisa lebih murah, kenapa di dalam negeri untuk waktu tempuh yang hampir sama malah lebih mahal. Ada dampaknya, pasti ada, itu jadi hambatan. Makanya kami sering menyampaikan supaya ada regulasi atau solusi agar tiket domestik tidak semahal itu,” tegasnya.
Ia menilai, dengan harga yang sama, wisatawan cenderung memilih destinasi yang lebih “bernilai” secara pengalaman.
“Orang berpikir, ngapain enggak sekalian ke luar negeri? Dengan rupiah yang sama, bisa ke tempat yang lebih jauh dan punya cerita lebih,” pungkas Heru. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi













