Ekbis

Produksi Panen Raya Meningkat, Petani Kopi Rakyat di Kabupaten Semarang: Harga Jual Malah Turun 30 Persen

×

Produksi Panen Raya Meningkat, Petani Kopi Rakyat di Kabupaten Semarang: Harga Jual Malah Turun 30 Persen

Sebarkan artikel ini
Kopi Rakyat Semarang

SEMARANG, beritajateng.tv – Sebagian kebun kopi rakyat di sejumlah wilayah di Kabupaten Semarang sedang memasuki masa panen raya pada bulan Juli tahun 2025 ini.

Dari sisi produktivitas, sejumlah petani mengakui panen raya kali ini jauh lebih menggembirakan jika membandingkan dengan panen raya tahun sebelumnya.

Namun, bayang-bayang anjloknya harga jual komoditas kopi rakyat cenderung menghantui para petani akibat produksi kopi yang relatif melimpah.

BACA JUGA: Menjajal Juwalan Kupi 729, Kedai Kopi Cilik di Tengah Pasar Raya Salatiga, Pakai Metode Turkish Coffee!

“Saat ini harga turun hingga 30 persen,” kata Antep Rosit (38), petani kopi di Dusun Tompak, Desa Genting, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Sabtu, 12 Juli 2025.

Penyebabnya, kata dia, karena kopi di tingkat petani saat ini memang melimpah setelah produktivitas mengalami peningkatan 40 hingga 60 persen.

Simon, sapaan akrabnya, menjelaskan saat ini harga cherry atau buah kopi yang baru terpetik dari kebun petani hanya Rp11 ribu per kilogram.

Harga jual kopi rakyat pada 2024 capai Rp17 ribu per kilogram

Sementara itu, tahun 2024 lalu, saat produktivitas kopi tak sebagus tahun ini, harga cherry di tingkat petani cukup menjanjikan, bisa mencapai Rp17 ribu per kilogram.

Faktor lain yang disebut-sebut turut memengaruhi harga jual kopi lokal yakni melimpahnya produksi kopi di sejumlah negara penghasil kopi terbesar.

“Panen kopi di negara Brazil maupun Vietnam saat ini juga cukup melimpah. Sehingga, dampaknya juga para petani kopi di Indonesia rasakan,” jelasnya.

BACA JUGA: Cuaca Tak Menentu, Produktifitas Petani Kopi di Kabupaten Semarang Terhambat

Kondisi harga kopi ini, lanjut Simon, tentu membuat para petani kopi rakyat terpukul. Sebab, umumnya petani kopi lokal berharap harga hasil panen bisa stabil.

Sehingga, pada saat produktivitas kopi meningkat petani juga bisa menikmati harga jual yang maksimal setelah hasil panen tahun lalu mengalami penurunan.

Namun, kenyataannya tak sesuai dengan apa yang para petani harapkan. “Walaupun petani kopi rakyat kurang puas, tetapi memang kondisinya demikian,” tandas Simon. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp