Meskipun sudah teratur dalam Undang-Undang (UU), tak sedikit parpol yang mencalonkan perempuan hanya sebagai formalitas.
“Makanya harus maksimalkan kuota 30 persen itu, agar perempuan tidak mendapat nomor belakang. Harapan saya, perempuan bisa ditaruh pada nomor 1, bisa juga 4. Tidak dapat nomor 6 terus,” ujar Kadarwati.
Tak lupa, ia menyampaikan harapannya agar seluruh parpol dapat menempatkan kader-kader perempuan sesuai dengan kapabilitasnya.
“Saya harap masing-masing partai menempatkan kader-kader perempuan itu pada nomor yang cantik sesuai dengan kapabilitasnya,” tutur dia.
Pihaknya juga menilai keterlibatan perempuan membawa perspektif berbeda dalam penyusunan kebijakan politik. Sebab, dalam hematnya, yang mengerti kebutuhan perempuan hanya perempuan itu sendiri.
“Tentunya sangat penting bagi perempuan untuk terjun ke politik, karena kebutuhan perempuan ya perempuan sendirilah yang tahu daripada yang lain. Dalam pengambilan keputusan, perempuan juga lebih teliti, memang banyak pertimbangan, tapi akan lebih berani,” tegas Kadarwati.
Pemberitaan “peka gender” penting agar suara perempuan tak tenggelam
Dalam konteks tersebut, Amy mengingatkan pentingnya jurnalisme peka gender di Indonesia. Menurutnya, cara media membingkai isu menentukan apakah perempuan dipandang hanya sebagai korban atau sebagai agen perubahan.
“Penting sekali menulis tentang tantangan yang perempuan hadapi, tapi kita tidak selalu ingin menjadikan mereka hanya sebagai korban. Kita juga ingin menampilkan perempuan yang mampu menembus batas tradisional dan menemukan keberhasilan,” ujar Amy.
Amy turut mendorong jurnalis untuk mampu mengintegrasikan perspektif gender ke dalam berbagai bidang liputan, baik politik, ekonomi, iklim, kesehatan, teknologi, hingga konflik.
“Misalnya di ekonomi kita bisa menulis tentang kesenjangan upah atau inklusi keuangan. Di iklim, kita bisa menyoroti peran perempuan dalam adaptasi dan aktivisme lingkungan,” jelasnya.
Tak kalah penting, Amy mengingatkan soal keragaman sumber berita. “Sangat penting memastikan kita juga menghubungi pakar perempuan, terutama di bidang-bidang yang mayoritas laki-laki. Itu bisa memperkaya cerita dan memberi perspektif yang mungkin tidak pernah kita pertimbangkan,” ujarnya.





