SEMARANG, beritajateng.tv – Generasi Z atau yang akrab dengan sebutan Gen Z terkenal sebagai generasi yang penuh kebebasan serta memiliki perhatian lebih pada kesehatan mental mereka. Baru-baru ini, sebuah riset menyebut bahwa mayoritas Gen Z lebih memilih bekerja dari rumah atau WFH dan sehat mental walaupun dengan gaji pas-pasan.
Penelitian tersebut dilakukan oleh Hawlett-Packard (HP) berjudul “Work Relationship Index”. Pada penelitian tersebut, sebanyak 93 persen Gen Z mengaku lebih memilih gaji kecil asal mereka bisa memiliki hubungan kerja yang baik.
Menanggapi riset ini, Isbalna, seorang Social Media Management di suatu agensi kreatif mengutarakan hal yang sama. Ia mengaku lebih nyaman bekerja dari mana saja (work from anywhere/WFA).
“Lebih nyaman WFA, karena fleksibel bisa dikerjain di mana-mana. Kalau di kantor nggak bisa fleksibel,” katanya kepada beritajateng.tv, Jumat 27 Oktober 2023.
Isbalna menyebut, bekerja langsung di kantor tidak menarik pekerja di usianya. Apalagi, menurutnya suasana kantor sangat berperan penting dalam memberikan kenyamanan dalam bekerja.
Sementara jika WFH atau WFA, ia merasa dapat dengan mudah mencari suasana baru ketika menemui kejenuhan. Hal tersebut juga turut berdampak pada kesehatan mentalnya.
BACA JUGA: Gen Z Lebih Rentan Kena Masalah Kesehatan Mental, Psikolog: Paling Banyak Gangguan Kecemasan
“Kalau kerja tapi tempatnya nggak nyaman, mau berangkat aja males. Kalau ngerasa jenuh kerja dari rumah bisa teratasi, sesekali ngerjain di kafe atau warkop. Jadi lebih aman, bikin mental lebih sehat,” lanjutnya.
Sementara itu, Mohammad Azzam, seorang karyawan Event Marketing juga menyampaikan hal senada. Menurutnya, WFH atau WFA cenderung lebih fleksibel dalam memanfaatkan waktu.
Dengan WFH atau WFA, kata Azzam, tidak lagi memaksa karyawan bekerja secara 9 – 5 yang terlalu mengikat dan saklek.
“Saya bisa mengerjakan hal lain sembari bekerja asal tidak begitu ber-impact ke pekerjaan utama. Dengan catatan, ya harus siap kerja di luar jam kerja juga,” ungkapnya.
Pekerja dengan WFH atau WFA Sering Dianggap Remeh
Di sisi lain, baik Isbalna maupun Azzam tidak setuju jika Gen Z harus rela mendapat gaji kecil asal bisa bekerja secara WFH atau WFA. Menurut mereka, bekerja baik secara WFO maupun WFH sama-sama memiliki kesulitannya masing-masing.
“Nggak rela kalau harus rela gajinya kecil. Orang-orang nganggep remeh, padahal secara effort dan pemikiran kita sama-sama kerja keras,” sanggah Isbalna.
“Nggak rela kalau gaji saya lebih kecil daripada yang kerja di kantor. Karena saya sendiri ada di divisi marketing. Ujung tombak perusahaan,” imbuh Azzam.
BACA JUGA: Tak Lagi PNS, Milenial dan Gen Z Kini Pilih Jadi Pengusaha
Keduanya lantas tidak setuju apabila Gen Z atau rekan-rekan seusianya disebut lebih manja dibanding generasi sebelumnya. Menurut mereka, kenyamanan WFH dan WFA muncul lantaran telah berubahnya pola hidup akibat Pandemi Covid-19 tiga tahun yang lalu, salah satunya pola kerja yang baru.
“Karena kita seperti ini dipengaruhi oleh lingkungan dan teknologi. Standar penilaian untuk menye-menye harusnya berbeda,” pungkas Azzam yang tidak setuju akan Gen Z yang nyaman dengan WFH. (*)
Editor: Farah Nazila





