“Ada yang kerja di BUMN, lulus LPDP kuliah di Belanda, itu yang menjadi ikon kami. Ada juga yang tahun lalu menang lomba TIK tingkat nasional, Diskominfo RI hadiahnya study banding di Korea Selatan,”
Adapun yang sampai saat ini masih aktif di Roemah Difabel berjumlah sekitar 40 orang. Yang terdiri dari berbagai jenis difabel seperti tuli, bisu, tuna netra, autistik, difabel mental, hingga difabel fisik.
“Kami pengen mengubah paradigma masyarakat yang masih menganggap anak-anak difabel tidak bisa apa-apa, tidak memiliki kemampuan. Tapi nyatanya anak-anak bisa bekerja, bisa mandiri, bisa menang kejuaraan,” tandasnya.(*)
Editor: Farah Nazila





