Dari sisi BUMD, salah satu kerja sama yang memiliki potensi aktivitas bisnis terbesar adalah sinergi Bank Jateng dengan Bank Kaltimtara dengan potensi sekitar Rp15 triliun per tahun.
Ada juga kerja sama Jamkrida Jateng dengan Jamkrida Kaltim melalui skema co-guarantee untuk proyek di IKN. Total proyeksi nilai proyek yang didukung mencapai sekitar Rp1,34 triliun, dengan proyeksi imbal jasa penjaminan sekitar Rp3,452 miliar per tahun.
Harapan Ahmad Luthfi
Gubernur Ahmad Luthfi berharap, perjanjian kerja sama tersebut segera kita realisasikan kegiatannya, sehingga dengan adanya keterbatasan fiskal dan geopolitik dunia, tetap bisa melakukan upaya-upaya pembangunan wilayah.
Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud mengatatakan, kerja sama ini merupakan kolaborasi yang saling menguntungkan dan saling melengkapi antara Jateng dan Kaltim, di mana Kaltim memiliki sumber daya alam sedangkan Jateng memiliki industri pengolahan, UMKM dan sebagainya.
“Ini terobosan luar biasa dan mudah-mudahan juga bisa dicontoh di provinsi-provinsi lainnya yang ada di Indonesia. Supaya kita tidak tergantung dengan APBN ataupun dana transfer pusat ke daerah,” katanya.
Salah satu contoh Jawa Tengah dan Kaltim itu saling melengkapi, misalnya, terkait kebutuhan beras. Di Kaltim setidaknya hampir 10 ribu ton beras dipasok dari Jawa Tengah.
BACA JUGA: Protes Gubernur Jateng Sebut Jalan di Blora Tak Penting, Warga Tanam Pohon Pisang di Jalan Rusak
Sebaliknya industri di Jawa Tengah memerlukan pasokan batubara sebesar 1,5 juta ton di luar untuk keperluan PLTU. Begitu juga dengan minyak kelapa sawit atau CPO yang juga dikirim ke Jawa Tengah.
“Penduduk Kaltim ini hanya sekitar 4,2 juta jiwa, Jawa Tengah sampai 38 juta jiwa. Produksi batubara dan CPO kami melimpah. Jadi kita sama-sama saling melengkapi. Intinya bahwa ini adalah kolaborasi yang sangat luar biasa,” katanya. (*)
Editor: Farah Nazila





